Living in America : My Impressions About American Culture

budaya amerika serikat

One thing that excites me the most when I lived outside of Indonesia is the opportunity to learn new cultures. Hal ini jugalah yang bikin saya betah tinggal di Vietnam dan Amerika karena bisa experiencing their culture, observasi, ngebandingin, sekaligus banyak belajar dari mereka. Tulisan ini dibuat berdasar budaya Amerika Serikat that I have experienced during my not-so-long life in Wisconsin state, the US.

Sewaktu tinggal di Hanoi, Vietnam, saya gak begitu sering mingle dengan Vietnamese kecuali kalau pas mau makan (jangan ditiru 🙂 atau hang out ama temen-temennya Kyle yang kadang ada Vietnamese-nya. Saya malah lebih banyak punya temen dari Vietnam selatan (Saigon) meski tinggalnya di utara (Hanoi) dan jarang ke selatan. Yah secara di selatan juga ketemunya temen yang demen travel jadi gampang nyambung dan hang out. I didn’t even learn Vietnamese and used the language only when I went to a restaurant. Di Hanoi, hidup saya cuma berputar dari apartemen, nulis di Cong cafe dan KFC, ke Vincom mall Pham Ngoc Tach, main ke Old Quarter, dan ke Hoan Kiem lake. Lebih seringnya berdua atau sendiri aja dan sesekali hang out atau partying bareng english teachers temen-temennya Kyle. Boring? Nggak bangetlah, justru peaceful banget karena gak banyak ketemu orang.

My life in America was more/ less similar with the previous one in Hanoi. Bedanya disini saya experiencing banyak hal baru dan budaya Amerika Serikat yang selama ini cuma bisa denger/ baca di media secara saya tinggal bersama keluarga Amerika dan berinteraksi dengan mereka setiap hari. Beberapa hal telah mengubah persepsi saya terhadap budaya Amerika Serikat, in a positive way. Before I go there, I felt a bit cynical about American culture as I thought the culture wasn’t original as cultures in other countries. But then I admired how they created a new culture and influencing the world.

budaya amerika serikat

WHAT IS CULTURE ?

According to Cristina De Rossi, an anthropologist at Barnet and Southgate College in London, Culture encompasses religion, food, what we wear, how we wear it, our language, marriage, music, what we believe is right or wrong, how we sit at the table, how we greet visitors, how we behave with loved ones, and a million other thing.

The US is one of the most culturally diverse countries in the world. Populasinya dibangun berdasar para imigran yang pindah dari negara-negara lain, disamping Native Americans yang memang sudah lebih dulu mendiami negara ini. Hampir setiap budaya dari negara asal para imigran mempengaruhi terbentuknya budaya Amerika Serikat, terutama budaya Inggris yang dulunya menjajah Amerika pada awal 1600-an. Selain budaya Inggris, budaya Amerika Serikat juga dibentuk oleh budaya Native Americans, Amerika Latin, Afrika, dan Asia.

Meski telah terbentuk budaya Amerika Serikat, masing-masing kelompok imigran biasanya masih mempertahankan dan melestarikan budaya asal mereka. Misalnya German-American di Wisconsin yang masih menjaga tradisi Oktoberfest, agama serta mempelajari bahasa Jerman. Atau komunitas Asian-American (Hmong) dan Catholic-spanish speaking communities yang juga masih menggunakan bahasa ibu mereka serta melestarikan cultural family traditions. Uniknya lagi, setiap kawasan di US memiliki customs dan traditions yang berbeda. Tapi emang beginilah karakteristik budaya Amerika. Berikut beberapa aspek budaya Amerika Serikat yang pernah saya experienced :

  1. Family-oriented
budaya amerika serikat
Eagle on the backyard!!

Siapa sangka kalau ternyata orang Amerika lumayan family-oriented?. Hubungan di dalam keluarga bisa sangat dekat, casual, tapi tetap respect personal choices. I like how everyone can deliver their opinions without judgments from older people and everyone respect each other’s views.

Ada banyak acara keluarga, gak cuma pas Christmas dan Easter aja sih, tapi dalam banyak momen lainnya seperti hari ulang tahun atau sekedar visiting anggota keluarga di luar kota saja.

2. Christmas, Easter & Thanksgiving

budaya amerika serikat

Christmas disini adalah saatnya berkumpul dengan keluarga. Gak cuma dengan keluarga inti tapi juga keluarga besar. Partynya pun ada banyak. Christmas Eve dilewatkan dengan dinner dan ngelihat Christmas Lights di rumah kakek nenek pertama, kemudian hari Christmas paginya ke Lutheran church lalu ngerayain di rumah dengan tuker kado, kemudian hari berikutnya ke rumah kakek nenek kedua.

Easter juga dilewatkan bersama keluarga di salah satu rumah sepupu Kyle. I like the easter games (egg hunt and other games). Acara keluarga seperti ini biasanya makan waktu dari pagi sampai sore.

Sementara itu Thanksgiving dirayakan pada hari Kamis keempat pada bulan November setiap tahunnya. Thanksgiving dirayakan untuk mengingat para pilgrims yang selamat dari musim dingin berkat bantuan para Native Americans. Karena sejarah pedih antara pendatang Eropa dan Native Americans, di beberapa kota di AS para Native Americans menolak perayaan Thanksgiving karena dianggap sebagai hari ditaklukannya Native Americans oleh para colonist.

Yang paling saya suka dari Thanksgiving adalah makanannya. I am not a foodie but the casserole is really good haha. Turkeynya sih lumayan.. Thanksgiving juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan saat itu saya bisa ngerasain suasana kekeluargaan yang hangat dan dekat. Penasaran seperti apa ayam kalkun sebelum dimasak?. Ini nih penampakannya saat winter di halaman rumah. Aneh aja kan lagi asyik nulis di komputer tiba-tiba ada segerombolan ayam kalkun yang nyelonong. Entah punya siapa..

Note : I didn’t take any pictures during celebrations as unlike us, they don’t really like taking a lot of photos. I didn’t want to look as a weirdo tho.

3. Friendliness & Small Talk

budaya amerika serikat

Diluar dugaan saya sebelumnya, ternyata orang Amerika ramah banget dan suka banget basa-basi. Duh, mirip banget ama orang Indonesia ya!:). Tapi hal ini juga yang bikin saya jadi gampang beradaptasi dan gak ngerasa homesick sama sekali. Meski begitu, tiap kali ngobrol ama Europeans soal hal ini, biasanya mereka kesel karena bagi mereka hal ini sama aja dengan bersikap fake.

I still remember how friendly the bus driver greeted me every time I get in his bus, atau sapaan how are you doing? setiap kali mau bayar ke kasir supermarket. Meski belum tentu tulus, sebenarnya kebiasaan ini bagus juga sebagai hospitality & service standard. Belum pernah saya ngerasain deg-degan karena khawatir petugas yang akan saya ajak bicara bakalan ketus dan judes seperti halnya di Eropa. Bahkan saat saya terburut-buru beli tiket kereta di Penn station, NYC aja petugas tiketnya masih melayani saya dengan ramah dan sambil senyum.

4. Sport-minded nation

budaya amerika serikat

Amerika adalah negara yang sangat sport-minded. Sport gak cuma menjadi hobi bagi mereka yang emang suka main dan nonton olahraga, tapi juga jadi family events/ activities. Mau itu American football, basketball, baseball, atau ice hockey, gak jarang 1 keluarga pergi ke stadion untuk mendukung tim kotanya, lengkap dengan atribut tim seperti topi dan seragam. Bahkan saat winter pun, satu keluarga akan rame-rame jalan ke stadion dan nahan dingin berjam-jam demi nonton pertandingan. Karena ya ini adalah acara keluarga. Saat mereka gak ke stadion, obrolan mengenai olahraga sering mendominasi di rumah dan setiap weekend hampir pasti nonton pertandingan di rumah bersama keluarga dan sesekali ke bar.

Saya pernah 2x ikut nonton pertandingan langsung di stadion selama tinggal di Wisconsin. Pertama di bulan Desember nonton tim American football Green Bay Packers di Lambeau Field, kota Green Bay, Wisconsin. Pertandingannya berlangsung selama 3 jam(!) dan di outdoor di suhu yang cukup dingin. Meski dinginnya belum segila bulan Februari yang mencapai -32 derajat Celcius, tapi tetep aja saya gak betah duduk 3 jam-an ngelihat orang main olahraga yang tiap beberapa detik distop sama wasit. Akhirnya tiap 1 babak selesai kita berdua kabur ke dalam nyari hot chocolate.

Pengalaman yang kedua adalah nonton klub NBA divisi 2 atau G League Wisconsin Herds di Oshkosh. Karena Jason waktu itu kerja untuk tim ini jadi kita dapet free tickets gitu. Dibanding American football, saya jelas banget lebih suka nonton NBA. Pertandingannya seru, di dalam ruangan jadi gak dingin, dan semua serba teratur. Saya juga udah pernah ke Fiserv Forum, kandangnya Milwaukee Bucks, cuma sayangnya belum pernah nonton gamesnya. Selain kedua cabang olahraga itu, yang masih bikin penasaran adalah gimana rasanya nonton Ice Hockey secara langsung. Semua ini gara-gara dorama Pride (2004) yang dibintangi Takuya Kimura huehehehe….

budaya amerika serikat

5. Eat Out in the Restaurant

budaya amerika serikat
Tapas & Sangria in Madrid, Spain

Beda dengan di Indonesia atau di banyak kota di Eropa, porsi makanan di Amerika gede banget!. Satu porsi pasta Alfredo cukup untuk dimakan 3x karena kalau dimakan sekaligus jelas gak muat di perut saya. Biasanya, sebelum makanan habis, waitress akan mendatangi meja dan menawarkan take out box/ doggy bag. Menyisakan makanan dan minta dibungkus is completely normal in American culture and many people expect to take half of it home to have the next day. Tapi jangan pernah coba lakuin hal ini di Eropa dan Jepang karena akan dianggap gak sopan.

6. Tipping Culture

budaya amerika serikat

Satu hal lain yang perlu diperhatikan kalau kamu berniat mau makan di restoran di Amerika adalah tipping culture. Tipping is expected since the workers don’t make a lot of money from their wages. Upah per jamnya sedikit jadi penghasilan mereka bergantung kepada tip dari para customer. Besarnya tip adalah 10%-20% dari total bills, tapi setahu saya sebagian besar orang memberikan tip 20% dari total bills mereka. Tip bisa ditinggal di meja atau dimasukkan sekaligus dalam bill kalau kamu membayar dengan kartu kredit. Biasanya waiter/waitress akan memberikan tablet dimana customer bisa memilih besaran tip yang akan diberikan.

Kalau kamu gak mau mengeluarkan tip, bisa juga pilih makan di resto fast food, hole in the wall, atau beli di kedai to go dimana gak ada pelayan yang akan melayani.

Meski aturan tipping di Indonesia gak seketat di Amerika, disini mulai banyak perusahaan jasa yang minta tip ke customer. Tipping pun menjadi salah satu budaya Amerika yang diadopsi di Indonesia. Kalau buat saya sih mending gak usah aja, yang punya usaha mending kasih gaji yang layak buat karyawannya, dont make it as my burden hehehe….

7. Car-Centric Culture

budaya amerika serikat

Tidak seperti di kebanyakan negara Eropa yang sistem transportasinya efektif dan efisien, transportasi publik di Amerika lumayan payah. Subway hanya ada di kota-kota besar macam New York dan Chicago. Itupun keretanya jelek banget kalau dibandingin di Eropa dan MRT Jakarta. Amerika Serikat adalah negara car-centric culture, artinya hampir semua orang menggunakan mobil untuk aktivitas sehari-hari. Transportasi umumnya ada, tapi yang naik kebanyakan hanya anak sekolah, homeless people, dan saya hehe. Ukuran mobilnya pun gede-gede, begitu juga jalanannya. Kayaknya mobil paling kecil disana sedan deh, tipikal mobil yang dipakai buat satu orang gitu.

8. Salex Tax

budaya amerika serikat

Kalau kamu mau shopping di Amerika, hal yang mesti diingat adalah harga yang tertera belum termasuk sales tax. Tak seperti di negara-negara lainnya dimana sales tax sudah termasuk dalam harga jual, di Amerika belum. Besaran salex tax berbeda setiap negara bagian. Contohnya di Wisconsin sales tax-nya 5%, Washington DC 10%, dan New York 8%. Jangan lupa tambahkan tip 10-20% dari total bill kalau kamu makan di restoran.

budaya amerika serikat
Georgetown, Washington DC

Meski disini saya kedengerannya suka banget ama budaya Amerika Serikat, it doesn’t mean kultur mereka perfect. Gak ada yang namanya budaya yang sempurna but i choose to see the positive side only.

Curious about my adventures in Europe and America ?. You can click the following links to see my traveling videos that have aired on Net TV :

  1. Desa Hallstatt, Desa dengan Arsitektur Klasik di Pinggir Danau
  2. Imutnya Park Guell, Dunia Fantasi Ala Gaudi di Barcelona
  3. Ada Turki Mini di Bosnia Herzegovina
  4. Nyobain Makanan Khas Bosnia, Kaya Rasa dan Pasti Halal
  5. The Bean, Seni Kontemporer yang Ada di Film – film Hollywood

Watch & subscribe to my daily vlog in America at my YouTube channel : Dada Kimura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s