
As a city person, setelah cukup lama tinggal di Bali, saya kadang merindukan kehidupan kota besar. Trip ke Thailand termasuk yang paling jarang dilakukan (saya cuma pernah ke Thailand 2x, itu pun cuma ke Bangkok), meskipun Bangkok populer banget bagi orang Indonesia, terutama untuk wisata shopping dan jastip. Oke deh, let’s fly to Bangkok. Karena cuma berdua dengan suami, trip ke Thailand kali ini jadi semacam mini honeymoon juga buat kita. Selama 5 hari, saya mengeksplor beberapa kawasan di Bangkok yang belum sempat dilakukan di trip Thailand sebelumnya: Songwat, Talat Noi, Chinatown, Silom, dan pastinya balik lagi ke Siam buat shopping!
Bangkok, Thailand. Kota yang paling banyak dikunjungi di dunia

Bukan Paris, New York, atau Tokyo tapi Bangkok lah kota yang paling banyak dikunjungi di dunia. Kuil-kuil Buddha yang menakjubkan, kuliner lokal yang mendunia, nightlife yang seru, dan mall-mall raksasa menjadikan Bangkok sebagai destinasi turis yang attractive. Tahun 2025 saja ada 30,3 Juta turis berkunjung ke Bangkok, menjadikannya pemegang gelar sebagai kota yang paling banyak dikunjungi turis di dunia dua tahun berturut-turut.
BACA JUGA:
Pengalaman Terbang dengan Business Class Garuda Indonesia
8 Makanan Khas Italia yang Wajib Dicoba Saat ke Roma
Saat ke Bangkok selama 5 hari bulan lalu, saya jadi mengerti kenapa ibukota Thailand yang punya nama resmi Kung Thep Maha Nakhon Bangkok ini bisa bikin orang bolak-balik berkunjung, bahkan stay cukup lama. Bangkok bukan cuma sekadar stopover sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau eksotis Thailand, melainkan salah satu destinasi utama negeri gajah putih. Orang-orangnya ramah, makanannya super enak dan terkenal, kulturnya kuat, tata kotanya rapi dengan pilihan transportasi yang beragam dan efisien, seperti di negara-negara maju Asia dan Eropa, serta affordable. Gak heran kalau banyak orang Indonesia yang ke Bangkok demi belanja baju-baju impor dengan harga yang lumayan rendah dibanding di Indonesia, juga untuk bisnis jastip. Shopping juga yang jadi salah satu tujuan utama saya traveling ke Bangkok pertengahan tahun ini, hehe..
Pada dua trip pertama ke Bangkok, saya berkunjung ke destinasi dan landmarks wajib kunjung seperti Grand Palace, Wat Arun, Wat Pho, Khao San Road, dan lainnya. Hence, pada trip Bangkok kali ini, saya mau mengeksplor tempat-tempat dan kawasan lainnya yang lebih otentik dan sedang naik daun. In this guide, saya akan share dimana kawasan terbaik untuk stay selama traveling ke Bangkok, the best things to do in Bangkok, transportasi terbaik, dan lainnya berdasarkan pengalaman beberapa kali traveling ke Bangkok. Kalau kamu sedang mencari rekomendasi untuk trip ke Bangkok, atau not sure what to do? I’ve got you covered.
How to go to Bangkok, Thailand?

Dari Bali, kita terbang ke Bangkok dengan Garuda Indonesia, transit singkat selama 1,5 jam di Soekarno – Hatta Jakarta. Sebenarnya ada penerbangan langsung dengan Thai Airways atau transit singkat di SG dengan Singapore Airlines tapi jamnya gak cocok. Penerbangan dengan Garuda Indonesia selama total 5 jam 45 menit terbilang lancar, hanya aja menurut saya waktu transit 1,5 jam tuh terlalu singkat. Kita harus pindah ke terminal keberangkatan internasional di Terminal 3 Soetta, melewati pemeriksaan sekuriti, antre, lewat imigrasi, dan jalan menuju ke boarding gate di ujung. Semuanya dilakukan dengan perasaan terburu-buru karena begitu mepetnya waktu transit. Tapi untungnya ada buggy yang membawa penumpang ke gate di ujung. Kalau gak tambah ngos-ngosan..
Ketika terbang kembali dari Suvarnabhumi Airport ke Ngurah Rai Bali pun kita transit lagi selama 1,5 jam di Soetta. Disini ada kejadian yang cukup mengganjal saya. Koper-koper yang harusnya langsung ke Bali diambil salah satunya untuk dicek oleh bea cukai. Itu koper ukuran kabin milik suami saya yang mana isinya cuma pakaian aja. Memang akhirnya dikembalikan, tapi bagi saya aneh aja kok diceknya di Jakarta, dalam keadaan kita terburu-buru mesti pindah ke terminal keberangkatan domestik karena waktu transit yang sangat singkat. Satu hal lagi, saat check in di konter Garuda di Suvarnabhumi, petugasnya nanya ke saya yang mana koper punya saya? Hal ini aneh karena seumur-umur naik pesawat saya tidak pernah ditanyain hal seperti ini oleh petugas check-in, and I traveled a lot, seakan-akan petugasnya….hmm begitu deh.
Anyway, kita mendarat on time di Bandara Suvarnabhumi Bangkok lanjut naik Grab car ke hotel kita di Silom. Kalau kamu prefer naik transportasi publik, kamu bisa naik Airport Rail Link, kereta bandara dari Suvarnabhumi Airport menuju ke pusat kota Bangkok. Tarifnya 15 – 45 THB, sedang tiket bisa dibeli di mesin tiket atau konter tiket di stasiun dengan koin atau uang kertas pecahan kecil.
Where to stay in Bangkok, Thailand?

Selama 4 malam saya dan suami menginap di Pullman Bangkok Hotel G, hotel bintang 5 yang berada di kawasan Silom, pusat finance utama di Bangkok. Sengaja kita pilih stay di Silom karena areanya punya banyak pilihan resto di sekitarnya, ada nightlife yang hidup, dan pastinya cukup dekat kalau ke Siam untuk ke mal-mal. Cukup jalan kaki 5 menit ke stasiun BTS atau naik Grab car, dan voila, sampai deh di Icon Siam, Siam Paragon, dan Central World. 10 menit jalan kaki dari hotel ada Pasar Malam Patpong yang dipenuhi kuliner kaki lima, bar, dan kios suvenir, 15 menit dari hotel ada Soi Thaniya yang dikenal sebagai Little Tokyo-nya Bangkok. Suasana disini mirip dengan Kabukicho di Tokyo, kanan kiri jalan dipenuhi tempat karaoke lengkap dengan gadis penghibur berjejer di depan pintu, dan pastinya ada banyak pilihan restoran serta izakaya Jepang.
Saya betah banget di Pullman Bangkok Hotel G. Kamarnya spacious meski furniturnya tidak baru, king bednya comfy banget. Tapi yang paling impresif adalah view kota Bangkok yang dipenuhi skyscrapers. Baik siang ataupun malam viewnya kece banget!

One of the best things to do in Bangkok saat malam tentunya pergi ke rooftop bar. Pullman sendiri punya Scarlett Wine Bar & Restaurant yang mana punya view kota Bangkok yang super cakep.

Disini kita menutup petualangan hari pertama di Bangkok dengan segelas red wine dan Aperol Spritz.
Beberapa kawasan di Bangkok yang bisa kamu consider untuk stay selama jalan-jalan ke Bangkok:
Sukhumvit: Kawasan moderen di Bangkok yang bernuansa internasional. Punya banyak pilihan hotel, restoran, dan bar serta sangat terhubung dengan BTS. Cocok buat first-timers atau penyuka nightflife.
Siam: Cocok untuk family dan para shoppers. Siam merupakan kawasan komersial utama di Bangkok, dipenuhi mal-mal besar seperti Siam Paragon, MBK, Platinum, dan Central World. Ada pilihan indoor entertainment untuk family serta pedestriannya aman bagi anak-anak.
Chao Phraya Riverside: Kawasan yang sempat saya pertimbangan untuk stay. Di sepanjang Sungai Chao Phraya berjejer upscale resorts. Kalau stay di kawasan sini suasananya relaxing dan ada akses lansung ke Grand Palace dan Wat Arun dengan naik boat melintasi sungai.
Khao San Road: Kalau kamu berjiwa muda dan suka backpackeran, Khao San Road bisa dipilih untuk stay. Ada banyak pilihan hostel dan budget hotels, street food di sepanjang jalan dan sangat dekat dengan pusat party saat malam hari. Minusnya kalau stay di area ini suasananya bisa jadi sangat bising.
Silom: Pusat finansial Bangkok yang berganti wajah saat malam hari. Kawasan ini punya akses langsung ke MRT dan BTS, banyak pilihan rooftop dining, dekat dengan Taman Lumpini, serta punya nightlife yang seru (Pasar Malam Patpong dan Soi Thaniya atau Little Tokyo).
How to get around Bangkok, Thailand?

I love public transportation, dan Bangkok punya beragam transportasi publik yang layak dan efisien. Karena belum pernah naik tuk tuk, kendaraan roda tiga bermotor ikonik Thailand, kita nyobain tuk tuk dari Silom ke mal Icon Siam. Supirnya ramah, malah bantuin ambil foto saat kita terjebak kemacetan. Tarifnya sendiri 300 THB setelah tawar-menawar.
Selanjutnya untuk menuju ke mal-mal yang rata-rata berada di Siam, saya dan suami kadang naik BTS. Cukup jalan kaki lima menit dari hotel ke stasiun BTS Chong Nonsi, lalu naik BTS Silom line tujuan National Stadium dan turun di Siam. Central World bisa dicapai dengan jalan kaki selama 7 menit lewat jembatan penyeberangan (mirip jembatan penyeberangan Semanggi yang panjang itu). Trip ini tarifnya 28 THB aja, sekitar 15.000 Rupiah menurut kurs saat ini. Untuk keliling Bangkok menggunakan BTS, tarif single ride mulai 16 hingga 59 THB, sedang kalau beli one-day pass tarifnya 150 THB untuk unlimited rides di Green Line hingga tengah malam. Kita seringnya naik Grab car, makanya hanya beli tiket single-ride di mesin tiket di stasiun setiap mau naik BTS atau MRT.

Transportasi publik lain yang pengen saya coba di Bangkok adalah Chao Phraya Express Boat. Kayaknya seru aja gitu naik boat keliling kota, something Jakarta and many cities in Indonesia don’t have. Tapi at the end kita lebih banyak naik taksi dan jalan kaki mengeksplor Talat Noi dan Songwat, jadinya gak keburu deh naik boat.
Things to see & do in Bangkok, Thailand
- Grand Palace

Destinasi wisata paling wajib dikunjungin saat trip Thailand. Grand Palace adalah komplek yang terdiri dari lebih dari 100 bangunan kerajaan di pusat kota Bangkok. Hingga tahun 1925, Grand Palace menjadi kediaman resmi Raja Thailand (sebelum akhirnya dipindahkan ke komplek Istana Dusit) dan kini menjadi tempat upacara resmi kerajaan. Grand Palace sangatlah ikonik dan mudah dikenali berkat kuil-kuil emasnya yang berujung spiral dan paviliun-paviliun bergaya khas Thailand.

Saya kesana pada trip Thailand kedua, saat itu saya menghabiskan waktu 2 jam untuk menjelajah tourist attraction terbesar di Bangkok dan yang paling banyak dikunjungi ini. Saat itu tiket masuknya 200 THB aja, tapi kini 500 THB (269.500 Rupiah menurut kurs saat ini). Gak cuma ada kuil-kuil mewah tapi di dalam komplek Grand Palace kamu juga bisa berkunjung ke Queen Sirikit Museum of Textiles, Emerald Buddha, dan Grand Palace Hall, bangunan terbesar di komplek ini.

Grand Palace wajib dikunjungi sih di Bangkok apalagi kalau kamu into history dan kuil Buddha. Jangan lupa pakai pakaian yang menutupi bahu dan lutut ya, atau kamu bisa beli/ sewa sarung di toko-toko sekitar.
2. Wat Pho

Destinasi ikonik di Bangkok, Thailand satu ini sayang banget kalau sampai dilewatkan. Temple of the Reclining Buddha yang juga disebut Wat Pho adalah rumah bagi patung emas Buddha tidur sepanjang 46 meter. Patung emas Buddha ini tentu aja jadi spot foto paling populer bagi wisatawan. Dari Grand Palace kamu bisa sekalian ke Wat Pho yang berada tepat di sebelahnya.

Untuk kesini tiket masuknya 300 THB, dan kamu juga wajib memakai pakaian yang menutupi bahu dan lutut.
3. Wat Arun

Many people said Wat Arun is the most beautiful temple in Bangkok and I agreed. Kuil yang dijuluki sebagai the Temple of Dawn ini namanya diambil dari Aruna, Dewa Matahari dalam kepercayaan Hindu India. Cahaya matahari pagi yang menyentuh puncak kuil membuat kuil terlihat berkilau dan indah. Makanya waktu terbaik ke Wat Arun adalah saat pagi hari.

Berbeda dari temple lainnya di Bangkok, Wat Arun berwarna putih dengan intricate details dan hiasan porselen di setiap bagiannya. Hal inilah yang bikin Wat Arun istimewa dan indah, in my opinion. Wat Arun berada di tepi barat Sungai Chao Phraya, tepat di seberang Grand Palace dan Wat Pho. Untuk kesini, saya naik boat bersama puluhan turis lainnya.
Tiket masuknya 200 THB dan seperti di kuil lainnya, kamu perlu memakai pakaian sopan yang menutupi bahu dan lutut. Kamu juga bisa menyewa pakaian tradisional Thailand untuk berpose di Wat Arun. Harganya sekitar 150 THB.
4. Khao San Road

Khao San Road adalah kawasan favorit saya pas ke Bangkok tahun 2017 dulu. Backpacker street ini suasananya lively banget di malam hari!Ratusan orang tumpah ruah di jalanan untuk jalan kaki, makan, dancing dan party. Musik terdengar hingar bingar dari deretan bar, kafe, dan restoran di sepanjang jalan. Ada banyak street food stalls yang menjajakan makanan khas Thailand seperti mango sticky rice dan suvenir macam celana gajah yang sering dipakai para turis di Thailand. Baik siang dan malam suasana di Khao San Road selalu lively! Kalau kamu traveling in budget, kamu bisa nemuin banyak akomodasi disini dengan harga yang ramah di kantong.
Sekarang when I am older, Khao San Road enggak menarik lagi, malah kalau bisa dihindari karena terlalu sumpek dan noisy. Tapi kenangan party disini selalu fresh di memori dan bikin saya senyum-senyum sendiri.
5. Exploring mal-mal di Bangkok

Well, inilah alasan utama saya bikin trip Thailand kali ini, supaya bisa menjelajah setiap big mall di Bangkok!
Bangkok punya sederet mal berskala besar yang sukses bikin saya betah menjelajah berjam-jam. Saking banyaknya pilihan, meski tiap hari ke mal, ada aja mal yang belum sempet saya masukin karena udah terlalu capek setelah ke beberapa mal di Siam.
Icon Siam: Luxury mall yang berada di tepi barat Sungai Chao Phraya. Gak cuma punya lebih dari 500 toko, termasuk brand yang gak ada di Indonesia seperti Lululemon, hal yang menarik dari Icon Siam untuk turis adalah SookSiam cultural market yang berada di lantai paling bawah. Food court disini dibuat menyerupai pasar tradisional Thailand lengkap dengan pasar terapung dan kios-kios yang menjajakan makanan khas Thailand. Sayangnya rasanya B aja dan lumayan lama antrenya.
Siam Paragon: Mal favorit saya sejak trip Thailand sebelumnya. Luxurious, elegan, dan ada toko buku Kinokuniya yang emang kita tuju (secara di Bali toko buku terbatas banget..)
centralwOrld: Komplek shopping terbesar di Bangkok. Terletak di kawasan perbelanjaan Ratchaprasong yang ramai, centralwOrld berfungsi sebagai pusat gaya hidup besar yang menggabungkan ritel, tempat makan, hiburan, dan ruang perkantoran. Saya suka banget shopping disini karena brandsnya beragam, apalagi di lantai 6 ada toko buku Kinokuniya terbesar di Thailand, termasuk coffee shop di dalamnya yang berkonsep Japanese slow-bar. Dari stasiun BTS Siam dan Chit Lom, centralwOrld bisa dicapai langsung dengan jalan kaki di skywalk selama 7 menit. Very easy!
MBK: Dulu saat baru dibuka pertama kali tahun 1985, MBK adalah pusat perbelanjaan terbesar di Asia dengan sekitar 2.000 toko. Kini, MBK menjadi mal paling populer bagi turis di Bangkok. Disini kamu bisa nemuin banyak knock-off goods alias palsu.
Platinum Fashion Mall: Berada di distrik Pratunam, Platinum adalah pusat wholesale fashion dalam ruang terbesar. Orang Indonesia apalagi jastipers biasanya udah familar dengan Platinum karena disini pusatnya baju-baju, sepatu, dan aksesoris impor yang terjangkau. Bahkan bisa tawar menawar juga. Sayangnya, karena saya kelamaan di mal-mal sebelah dan kaki udah gempor, saya nyerah deh kali ini gak ke Platinum gak papa. I’ll come back to Bangkok anyway…
Fortune Town IT Mall: Mal khusus produk komputer dan IT paling lengkap di Bangkok. Konsepnya mirip mal Mangga Dua dan ITC Kuningan di masa kejayaannya dulu. Disini kita menghabiskan waktu beberapa jam, termasuk untuk lunch di food courtnya. Makanan Thailand disini jauh lebih enak daripada di Icon Siam dengan harga makanan di Bangkok yang normal, pengunjungnya juga kebanyakan warlok.
Selain mal-mal yang saya sebut diatas, Bangkok masih punya Asiatique, Emporium, EmQuartier, dan Terminal 21 yang belum sempat saya masukin sama sekali. Gak cuma untuk shopping dan makan, mal di Bangkok sangatlah nyaman untuk menghabiskan waktu apalagi saat musim hujan dan saat hari terlalu panas.
6. Sunsetan di rooftop bar

I didn’t expect Bangkok skyline would be so stunning until my husband took me to Scarlett Wine Bar & Restaurant, rooftop bar-nya Pullman Bangkok Hotel G. View Bangkok di malam hari emang cakep banget sih, dan senengnya disini gak perlu ngantre atau mesti book dulu seperti di rooftop bars lainnya di Bangkok.
Menikmati view Bangkok di rooftop bar menjadi salah satu things to do in Bangkok yang paling impresif. Rooftop bar paling ikonik di Bangkok adalah Sky Bar di Lebua Bangkok. Tempat ini ikonik setelah menjadi lokasi syuting film The Hangover Part II. Disini kamu bisa chill sambil mandangin skyline Bangkok dari ketinggian hampir 250 meter (lantai 64).
7. Mengeksplor Songwat

Kawasan kota tua Songwat belakangan ini sedang naik daun. Kawasan yang berada di tepi sungai Chao Phraya dan bersebelahan dengan Chinatown ini menawarkan pemandangan sekilas kota Bangkok di masa lampau yang dipenuhi deretan toko dan rumah bergaya Tionghoa-Thailand. Meski rumah dan tokonya jadul, kebanyakan sudah dipugar dan direnovasi menjadi coffee shop, toko suvenir, kafe estetik, dan butik brand lokal Thailand. Yap, Songwat kini lebih dikenal sebagai kawasan hipsternya Bangkok.

Lumayan seru sih menjelajah Songwat. Saya nemuin banyak toko-toko lucu yang menjual suvenir dan trinkets, harganya affordable pula.

Song Wat juga punya beberapa coffee shop berkonsep unik seperti SCR – Song Wat Coffee Roasters. Hanya saja cuacanya super panas jadi kalau kesini sebaiknya pakai payung atau jaket yah.
8. Talat Noi

Di dekat Song Wat adalah Talat Noi, yaitu kawasan lingkungan Tionghoa bersejarah di tepi Sungai Chao Phraya yang terkenal dengan suasana tempo dulu, street art dan kafe estetik. Kalau Song Wat seru untuk shopping, Talat Noi seru untuk dijelajahin. Jujur, saya malah lebih surprised dengan Talat Noi saat menjelajah gang-gangnya. Suasana di Talat Noi juga lumayan tenang meski berada di tengah kota Bangkok yang sibuk.


Gak cuma nemuin mural warna-warni yang cute, Talat Noi terkesan kreatif di hampir setiap tikungannya. Kadang kita nemuin landmark tumpukan bagian mobil tua di pojokan jalan, di gang berikutnya kita nemuin kios-kios lucu. Begitu jalan 100 meter ke depan saya dan suami menemukan coffee shop yang sangat unik.


Mother Roaster Talat Noi punya konsep eksentrik. Begitu menuju ke kafenya, saya disambut rongsokan onderdil mobil yang aktif. Coffee shopnya sendiri berada di lantai 2 sebuah bangunan kayu yang mirip rumah panggung. Karena masih pagi, kita sekalian ngopi dulu, dan ternyata rasa kopinya exceptional. You should try the coffee here kalau ke Talat Noi!

Baik Songwat dan Talat Noi ramai oleh warlok Bangkok, gak cuma turis aja, jadi experience saat menjelajah kedua kawasan ini terasa otentik.
9. Chinatown

Setelah puas ngalor ngidul di Talat Noi dan Song Wat, di hari yang sama saya lanjut menjelajah Chinatown. Disebut juga sebagai Yaowarat Road, Chinatown Bangkok adalah salah satu yang terbesar di dunia. Di jalan utama, terlihat deretan neon box raksasa dengan huruf Mandarin di kanan kiri jalan. Toko-toko sibuk berbisnis. Suasananya lumayan bising.

Kita sendiri lebih milih masuk ke dalam gang-gang demi melihat barang yang dijual di pasar tradisional. Pada umumnya pasar disini menjual bahan pangan mentah. Hanya aja pasarnya tertata rapi dan terlihat bersih. Selain kawasannya yang ramai, Chinatown Bangkok juga terkenal akan street foodnya. Hmm sayangnya karena hari udah panas banget dan kita perlu istirahat, kami pun melipir pesan taksi untuk balik ke Siam, tepatnya ke salah satu mal buat ngadem hehe…
10. Wat Benchamabophit

Wat Benchamabophit yang berada di sebelah Istana Dusit (kediaman Raja Thailand) adalah kuil yang punya sedikit nuansa Eropa karena lantai kuil ini menggunakan marmer yang diimpor dari Italia, hence dijuluki Marble Temple. Kuilnya sendiri tampak indah dengan taman yang lumayan luas.

Kuil ini tampak indah tak cuma karena luas dan terawat bersih, tapi juga berkat deretan patung Buddha di salah satu hallway.


Mungkin karena cuacanya panas banget, tak banyak pengunjung kesini saat saya ke Marble Temple. Padahal tiketnya hanya 100 THB lho. But I am not complaining, karena disini kita bisa keliling kompleksnya dengan leluasa tanpa berdesak-desakan. This place is totally worth our time. Marble Temple juga menjadi satu-satunya cultural site yang kita kunjungin di Bangkok kali ini. Kalau kamu mau kesini, pastikan memakai pakaian yang menutupi baju dan lutut ya.
11. Wat Ratchanatdaram

Juga dikenal sebagai Lohat Prasat (Iron Palace), istana ini terkenal unik berkat struktur bertingkat dengan 37 menara besi hitam berujung emasnya. Ke-37 menara logam tersebut melambangkan 37 kebajikan (Bodhipakkhiya Dhamma) yang diperlukan untuk mencapai pencerahan Buddhis.
Terletak di Jalan Maha Chai di distrik Phra Nakhon, Iron Palace merupakan satu-satunya bangunan sejenis ini yang tersisa di dunia. Letaknya berada di dekat Wat Saket (Golden Mount), jadi kedua attraction ini bisa sekalian dikunjungi dalam 1 hari. Untuk ke sini kamu perlu bayar donasi 20 THB.
12. Chatuchak Weekend Market

Salah satu weekend market terbesar di dunia, setiap Jumat malam hingga Minggu malam lebih dari 15.000 kios buka di Chatuchak Weekend Market. Disini kamu bisa menemukan segala macam barang mulai dari baju, keramik, kerajinan tangan, makanan, tanaman, buku, barang antik, baju seken, suvenir, bahkan hewan peliharaan. I think it’s one of the must visit places in Bangkok!

Beyond ke-12 destinasi/ attractions di atas, Bangkok punya nightlife yang seru dan wild. It’s not a secret that ada banyak transgender atau cross-dressing people di Bangkok, sementara itu industri prostitusi berada di grey area yang malah bikin sektor ini menjamur di kawasan adult entertainment centers. Salah satunya di Pasar Malam Patpong dan Soi Thaniya yang berada tak jauh dari hotel kita. Suatu malam kita decided mengeksplor kedua tempat ini demi nyari makan yang tak jauh dari hotel. Patpong seingat saya dulu lumayan populer, tapi pas kita kesana pasarnya tampak lengang. hanya sedikit orang yang mampir di setiap kios suvenir. Tapi sebagai adult entertainment district, di sepanjang deretan kafe tampak berjejer gadis-gadis muda ramping berkulit putih. Mungkin Patpong bakal lebih rame pas malam kali ya…
Sementara itu Soi Thaniya yang lebih dikenal sebagai Little Tokyo punya banyak pilihan restoran Jepang. Tapi banyak juga saya lihat cewek-cewek muda duduk berjejer di depan resto dan spa. Meski kawasan ini kesannya red light district banget, at least disini saya bisa makan makanan Jepang dan ke Don Don Donki, toko camilan populer dari Jepang.

Tiga kali liburan ke Bangkok bikin saya cukup kenal akan Thailand. We will come back dan next trip Thailand bakal mengeksplor kota – kota lainnya.
Curious about my adventures in Europe and America ?. You can click the following links to see my traveling videos that have aired on Net TV :
- Desa Hallstatt, Desa dengan Arsitektur Klasik di Pinggir Danau
- Imutnya Park Guell, Dunia Fantasi Ala Gaudi di Barcelona
- Ada Turki Mini di Bosnia Herzegovina
- Nyobain Makanan Khas Bosnia, Kaya Rasa dan Pasti Halal
- The Bean, Seni Kontemporer yang Ada di Film – film Hollywood
Want to help support my travel? Help me to visit 50 more countries and write more travel stories & guides by donating here
Watch my adventures & subscribe to my YouTube channel: The Island Girl Adventures
