Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam
Di pintu masuk Cat Cat Village

Aktivitas wisata utama di kota pegunungan Sapa tentunya seputar kegiatan di gunung seperti hiking dan trekking. Salah satu yang tak boleh dilewatkan adalah trekking sambil mengunjungi desa – desa suku minoritas Vietnam. Desa yang paling terkenal dan sering dikunjungi traveler adalah Cat Cat Village.

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam
Pretty cobble stones 

Berjarak hanya 2 kilometer dari pusat kota Sapa, Cat Cat Village bisa dicapai dengan berjalan kaki, naik taksi maupun sepeda motor. Motor bisa disewa dengan harga 100.000 Dong atau sekitar Rp50 ribu per 12 jam. Cara paling asyik tentunya dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan Anda akan melewati toko-toko suvenir, restoran, kafe dan pastinya pegunungan dan lembah Muong Hoa yang terkenal akan kecantikannya. Kecantikan lembah hijau ini bahkan disebut mirip dengan panorama Eropa sehingga Sapa kadang disebut sebagai Swiss-nya Asia atau Alpen-nya Asia.

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam
Lembah Muong Hoa

TONTON JUGA : Ini Dia yang Tercantik di Vietnam, Pantai An Bang !

Tak jauh dari area perbukitan sampailah saya di depan pintu gerbang Cat Cat Village. Untuk masuk ke desa wisata ini perlu membeli tiket masuk yang harganya 50.000 Dong atau sekitar Rp25 ribu per orang. Sebelum berangkat ke Sapa saya sempat membaca kalau untuk masuk ke desa etnik perlu membeli izin dari kantor informasi turis dulu. Tanpa izin maka tak diperbolehkan membeli tiket masuk desa etnik apalagi masuk. Namun resepsionis hotel meyakinkan bahwa saya tak perlu membeli izin, cukup bayar tiket masuk saja. Dan ternyata benar. Mungkin aturan izin ini telah dicabut beberapa waktu lalu.

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam

Dari loket tiket saya berbelok ke sebuah gang kecil. Gang ini merupakan pintu masuk ke Cat Cat Village. Sebagai daerah wisata yang maju di Vietnam, desa etnik di Sapa terlihat rapi dan terkesan ditujukan untuk turis. Jalanan yang menurun bisa dilalui dengan mudah karena telah dibangun tangga berbatu. Di sebelah kanan kiri tangga tampak toko – toko suvenir. Penjualnya yang rata-rata suku minoritas Black Hmong rajin menawarkan kerajinan tangan sekaligus cinderamata buatan mereka. Meski tinggalnya di pegunungan, suku minoritas ini bisa berbahasa Inggris lancar tanpa aksen. Sungguh beda dengan kebanyakan masyarakat Vietnam yang susah berbahasa Inggris. Bila bisa pun biasanya agak sulit dipahami karena aksen Vietnamnya sangat kental.

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam
Salah satu rumah adat suku Black Hmong

BACA JUGA : Sex Museum Amsterdam 

Di antara deretan rumah suku minoritas ini ada beberapa rumah tradisional suku Black Hmong yang bisa dikunjungi turis. Cara menemukannya mudah karena telah ditandai dengan papan petunjuk. Rumah tradisional Black Hmong terlihat sangat tradisional dengan dinding terbuat dari kayu dan semen. Di depan rumah tampak deretan jagung yang digantung. Entah untuk apa. Di bagian dalam rumah yang tak disekat dinding ini saya melihat seorang wanita paruh baya Black Hmong tengah memasak menggunakan kayu bakar.

Wanita Black Hmong terlihat seperti halnya etnis Tiongkok. Ia memakai kalung logam di leher, berambut panjang sepinggul yang kadang digulung, memakai pakaian adat berwarna – warni yang terdiri dari atasan lengan panjang dengan kerah ala Cheongsam dan rok hitam berwarna – warni. Pakaian adat Black Hmong ini mengingatkan saya akan pakaian adat Mongolia. Satu yang menarik perhatian saya adalah, meski Sapa termasuk kawasan wisata populer di Vietnam dimana selalu dibanjiri traveler, Black Hmong dan suku minoritas lainnya bisa dibilang terlihat miskin. Mereka biasanya bekerja menjajakan suvenir maupun bekerja sebagai tour guide untuk trekking dan hiking.

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam
Rumah Shaman

Dari rumah Black Hmong saya kembali menuruni undakan batu, berbelok ke kanan kiri mengikuti undakan dan papan petunjuk arah. Disini saya menemukan rumah tradisional lainnya yang ternyata rumah Shaman atau dukun. Dari rumah, saya kembali menuruni undakan dan menemukan kebun bunga yang cantik.

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam

BACA JUGA : Menyisir Wisata Syahwat di Red District Amsterdam 

Kebun bunga berwarna kuning ini terletak persis di kaki bukit sehingga menghasilkan pemandangan alam yang menawan. Pun ketika difoto. Di Cat Cat Village ini saya menemukan dua kebun bunga. Kebun bunga satunya berada di tepi kolam teratai dan bisa dicapai dengan melewati jembatan bambu. Bedanya kebun bunga yang ini bunganya semuanya berwarna pink.

Trekking ke Cat Cat Village, Mengintip Rumah Suku Minoritas Vietnam
She approaced me just to sell her souvenirs 

Saat hari menjelang malam, saya memutuskan kembali ke atas. Perjalanan ke atas memakan waktu sekitar 1 jam. Saat tiba kembali di kota Sapa waktu sudah menunjukkan jam 19.15. Saya merasa puas menjelahi Cat Cat Village. Alamnya yang indah serta desanya yang rapi mampu menyegarkan dan membuat rileks pikiran.

This article has been published at http://www.okezone.com/travel on Wednesday, September 27, 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s