
Solo traveling atau dengan pasangan tentu beda tantangannya dengan liburan keluarga bersama bayi, apalagi balita! Si kecil yang menginjak usia toddler sudah bisa berlari, berkomunikasi, lebih aktif, dan selalu ingin memilih sendiri. Bahkan sampai ada istilah terrible two yang merujuk ke fase perkembangan anak usia 18 bulan hingga 3 tahun yang ditandai dengan seringnya tantrum, mood swings, dan suka membantah. Bisa kebayang dong seperti apa rasanya traveling dengan anak balita. Saya sudah merasakan sendiri suka duka liburan keluarga dengan balita, tepatnya saat jalan-jalan ke Turki, Maroko dan Italia awal tahun ini. Tantangan dan capeknya berkali-kali lipat euy dibanding saat Aimee masih baby. Meski begitu kita gak kapok untuk liburan keluarga dengan balita kesayangan kita ini hehe…Saya bakal bagi 10 tips buat kamu yang sedang planning liburan keluarga bersama balita kamu. Baik traveling di dalam negeri maupun keluar negeri, tips di bawah ini applicable dan bisa membantu mengurangi stres saat liburan.
Persiapan liburan keluarga dengan balita

1. Riset destinasi & bikin itinerary
Salah satu kunci liburan keluarga dengan balita yang nyaman ada pada persiapan yang matang. Dengan memulai riset jauh-jauh hari, kamu punya banyak waktu untuk cari informasi termasuk rekomendasi liburan keluarga di internet sebanyak yang kamu butuhkan. Cek blogs, website berita, forum komunitas traveling, hingga media sosial untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan seputar destinasi tujuan. Biasanya para blogger mencantumkan itinerary lengkap di blognya, begitu juga para traveler suka sharing itinerary mereka di berbagai FB group. Buat itinerary yang ramah balita dengan mengunjungi tempat-tempat yang bikin balita happy sekaligus bisa menyalurkan energi mereka yang kadang berlebih, misalnya ke taman, kebun binatang, jalan-jalan di promenade tepi pantai, playground, kids area di perpustakaan, dan lainnya.
Rekomendasi liburan keluarga di Jawa Tengah: Travel to Solo Indonesia. Exploring The Home of Batik, Jokowi & Java Culture
2. Pilih akomodasi apartemen atau aparthotel
Biasanya saya prefer aparthotel karena akomodasinya jauh lebih luas dibanding kamar hotel, yang artinya toddler saya bisa lebih bergerak aktif dan bermain. Pilih unit dengan luas minimal 35 m2 dan lokasinya berada di pusat kota. Hal ini agar kita bisa segera balik ke aparthotel di tengah hari agar anak bisa tidur siang seperti biasanya. Aparthotel dan apartemen juga punya dapur dan peralatan masak jadi memudahkan saya masak makanan untuk anak sesuai yang dimau. Selain itu ada beberapa fasilitas yang cocok buat liburan keluarga seperti kolam renang, gym, sauna, hingga cleaning service agar kita gak repot bersih-bersih setelah seharian mengeksplor tempat wisata.
3. Cek kesehatan anak sebelum terbang
Gak ada salahnya untuk chek-up kesehatan anak ke dokter anak sebelum berangkat liburan keluarga. Cek juga apakah anak kamu perlu vaksin dulu sebelum berangkat. Kalau kamu akan traveling ke Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah maka perlu vaksin dulu. Konsultasikan hal ini saat ke dokter anak. Disamping itu, kamu juga perlu membeli travel insurance juga untuk seluruh keluarga, jaga-jaga kalau anak sakit selama perjalanan. Salah satu asuransi travel yang selalu saya beli sebelum liburan keluarga adalah Safety Wing yang bisa dibeli online dan mencakup banyak negara termasuk Amerika Serikat.
4. Packing
Sebagian besar barang milik anak tentu ditaruh di koper, tapi siapkan juga sebuah tas kecil carry on untuk disimpan di kabin. Tas ini berisi barang-barang yang kemungkinan besar diperlukan anak selama penerbangan. Mulai dari baju hangat, kaos kaki, selimut, diaper, baju ganti, obat-obatan (flu, demam, anti mabuk), dan mainan.
Selama di bandara & terbang

5. Terbang di malam hari
Pilih penerbangan di malam hari saat kondisi anak udah capek setelah seharian bermain. Kalaupun belum capek, kamu bisa ajak balita kamu main di playground bandara. Bandara Soekarno-Hatta punya playground, di beberapa bandara di kota lainnya juga ada, sayangnya di Bandara Ngurah Rai malah gak ada playground. Duh kasihan ortu yang bawa anaknya kesini untuk terbang, seperti kami, hence biasanya suami ajak anak untuk main lari-larian sampai anak capek. Ketika anak capek maka lebih mudah tidur selama penerbangan.
Beberapa mainan yang bisa dibawa untuk menghibur anak selama di bandara dan kabin pesawat diantaranya flash cards dan stiker. Keduanya juga bisa dipakai selama menunggu makanan di restoran, jadi gak perlu memberikan screen time ke anak.
6. Pakai stroller selama di bandara
Kadang bandara penuh dan kita mesti antre panjang untuk drop bagasi, pengecekan sekuriti, dan imigrasi. Di saat-saat seperti inilah stroller berguna banget karena bisa menjaga toddler untuk tetap berada di dalam, instead of lari-larian. Khusus untuk anak saya, dia udah bisa melepas stroller seat beltnya, duh duh.. jadi kami putuskan untuk mengganti seat beltnya dengan yang lebih rumit. Stroller juga saya rasakan berguna banget saat harus menuju gate atau restoran di bandara yang luasnya kebangetan, seperti Bandara Istanbul.
Buat saya stroller wajib dibawa saat kita liburan keluarga. Ukuran besar tidak masalah karena yang penting anak saya nyaman dan betah selama kita traveling, dan saya pun bisa naruh beberapa tas di bagian bawah stroller juga. Biasanya stroller kita serahkan ke petugas maskapai sesaat sebelum masuk ke pesawat, dan bisa diambil kembali bersama koper-koper saat mendarat. Di beberapa bandara seperti Bandara Ngurah Rai Bali saya harus menunggu 30 menit (lama banget!) untuk mengambil stroller, begitu juga di Bandara Charles de Gaulle Paris yang cukup lama, tapi di bandara – bandara lain seperti Istanbul dan Roma manajemennya efisien banget. Gak sampai 5 menit koper-koper dan stroller udah keluar dari belt tuh!
Hal lain yang perlu diperhatikan terkait stroller adalah toddler biasanya mulai bosan berlama-lama di stroller saat kita tengah jalan kaki mengeksplor kota. Beberapa kali anak saya berusaha melepas seat beltnya karena dia pengen turun ke jalan! Makanya solusinya selain dengan mengganti seat belt, saya kasih beberapa kelonggaran khusus selama liburan keluarga, misalnya dengan beliin es krim. This way, balita jadi sibuk dengan es krimnya minimal 30 menit lah…mama papa pun bisa lebih lega jalan-jalannya.
Selama liburan keluarga dengan balita

7. Batasi destinasi yang dikunjungi dalam 1 hari
Zaman solo traveling atau saat belum punya anak saya demen banget ke banyak tempat dalam 1 hari. Hal ini gak mungkin dilakukan saat liburan keluarga bersama anak ya, gaes karena anak bisa capek, bosan, dan rewel. Dalam sehari, usahakan hanya ke 2-3 destinasi aja, selebihnya kasih rutinitas yang mirip dengan di rumah. Bayi dan balita menyukai rutinitas karena memberikan rasa aman, nyaman, dan kepastian di tengah dunia mereka yang baru. Biasanya di tengah hari setelah lunch kita akan balik ke hotel agar anak bisa tidur siang.
8. Hindari road trip yang lama
Sewaktu anak masih bayi, saya masih berani naik kereta api selama 2-3,5 jam karena bayi lebih gampang tidur dibanding balita. Tapi, sejak anak menginjak fase toddler dan jadi lebih aktif, naik mobil pun kalau kelamaan atau kena macet panjang biasanya anak jadi gampang bosan dan rewel. Daripada harus kasih screen time yang lama, liburan keluarga awal tahun ini kita hindari dulu road trip Ait Benhaddou dan Fez, hanya stayed di Marrakesh.
9. Siapkan car seat/ booster seat
Di banyak negara maju, balita dan anak di bawah usia 12 tahun atau tinggi di bawah 135-150 cm wajib memakai car seat atau booster seat saat bepergian dengan mobil. Pastikan untuk inget aturan ini ya gaes kalau liburan keluarga ke negara-negara Eropa dan Australia. Kalau kamu sewa mobil, pastikan included dengan car seat/ booster seatnya. Begitu juga saat naik bus atau Uber, driver bisa menolak kalau kita gak bawa lho. Kita pernah hampir membatalkan naik bus di Paris saat Aimee umur 6 bulan karena kita gak bawa car seat, untungnya supir bus menawarkan car seatnya. Saat liburan keluarga di Paris dan Melbourne pun, kita selalu pakai car seat saat naik Uber. Untungnya bagian atas stroller bisa dilepas untuk dipakai sebagai car seat. Sedangkan kalau naik kereta api, based on my experience naik kereta berkali-kali di Prancis tidak diwajibkan memakai car seat.
Selain car seat/ booster seat, siapkan juga selimut dan bantal agar balita bisa tidur nyaman di mobil.
10. Lebih fleksibel
Saat di rumah, anak saya bebas screen time kecuali hari Minggu. Tapi saat liburan keluarga saya berikan kelonggaran karena suasana saat traveling beda banget dengan di rumah. Seringnya nafsu makan balita menurun saat liburan keluarga, hence saya kasih beberapa video kartun agar anak tetap makan lahap dan gak turun berat badan. Jenis makanan pun lebih fleksibel mengikuti negara tujuan.
Kira-kira segitu dulu gaes tips liburan keluarga dengan balita. Saya akan tambahkan lagi tipsnya karena semakin balita tumbuh, tantangannya pasti akan nambah sih hehe..
Curious about my adventures in Europe and America ?. You can click the following links to see my traveling videos that have aired on Net TV :
- Desa Hallstatt, Desa dengan Arsitektur Klasik di Pinggir Danau
- Imutnya Park Guell, Dunia Fantasi Ala Gaudi di Barcelona
- Ada Turki Mini di Bosnia Herzegovina
- Nyobain Makanan Khas Bosnia, Kaya Rasa dan Pasti Halal
- The Bean, Seni Kontemporer yang Ada di Film – film Hollywood
Want to help support my travel? Help me to visit 50 more countries and write more travel stories & guides by donating here
Watch my adventures & subscribe to my YouTube channel: The Island Girl Adventures
