
Selain Jepang, Turki menjadi salah satu negara tujuan liburan favoritnya orang Indonesia. Sekitar 203.000 WNI liburan ke Turki pada tahun 2024 saja, wow! Gak heran sih kalau Turki sepopuler itu karena Turki punya budaya yang kuat, historic landmarks yang mengundang decak kagum, destinasi wisata alam yang memukau, belum lagi cowok-cowoknya yang sering dianggap ganteng oleh netizen Indonesia. As a history buff, tentu dari dulu saya sangat interested dengan Istanbul,Turki. Tapi somehow saya cuma pernah kesana sekali. Itu pun saat stopover selama 25 jam ketika balik dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur pada tahun 2016. Kala itu saya dapet free hotel dan tur dari Turkish Airlines. Jalan-jalan singkat di Istanbul, Turki pun berkesan banget di memori. Makanya pas suami nawarin untuk jalan-jalan ke Istanbul, Turki selama beberapa hari sebelum kita ke Marrakesh, saya otomatis setuju! Finally, I can see again some of the most stunning architectures in the world!! Langsung aja terbayang di imajinasi kalau kita bakal menyeberang dari Eropa ke Asia naik ferry…..
Istanbul, Turki: Satu-satunya kota yang berada di dua benua

If you’ve been following my blog for long, kamu akan noticed kalau saya emang kagum dengan sejarah dan arsitektur Turki. Meski cuma pernah ke Istanbul, Turki selama 1 hari, tapi saya traveling ke banyak tempat yang punya jejak – jejak peradaban Kesultananan Ottoman (Utsmaniyah). Mulai dari Athena dan Thessaloniki (Yunani), Skopje (Makedonia Utara), Dubrovnik (Kroasia), Budapest (Hungaria), dan tentunya di Mostar (Bosnia-Herzegovina) yang kental dengan pengaruh budaya Turki. Jangan lupakan juga kalau di Vienna, Austria ada beberapa monumen yang menunjukkan adanya historical conflicts saat Ottoman berupaya menundukkan Vienna di masa lampau.

The truth is, Kesultanan Ottoman dikenal dunia sebagai empire dengan wilayah kekuasaan yang luas, membentang dari Asia ke Afrika dan Eropa. Selama 600 tahun berkuasa, Ottoman mewariskan banyak kontribusi bagi dunia mulai dari arsitektur Islam yang megah, perpaduan budaya yang kaya, seni kaligrafi dan keramik, serta ilmu kedokteran, sebelum akhirnya bubar pasca Perang Dunia I.
Istanbul, kota terbesar di Turki adalah pusat pemerintahan Ottoman. Tapi jauh sebelum Ottoman bertahta pada 1453, Istanbul telah menjadi pusat pemerintahan Kekaisaran Byzantine (Romawi Timur) dan Kekaisaran Latin. Saat Konstantin naik tahta sebagai Kaisar Romawi pada September 324, ia lalu mentransformasi kota Byzantium menjadi ibukota kekaisaran yang megah yang dinamakan Nova Roma (New Rome), yang kemudian lebih sering dikenal dengan nama Konstantinopel. Setelah Romawi pecah menjadi dua, Konstantinopel menjadi ibukota Romawi Timur. Pada masa inilah Hagia Sophia dibangun oleh Kaisar Justinian I sebagai Katedral terbesar di dunia. Konstaninopel pun berkembang pesat sebagai kota terbesar dan paling makmur di Eropa, serta dikenal sebagai tempat lahirnya peradaban Kristen Ortodoks, hingga akhirnya Ottoman Turki berhasilnya merebutnya pada 29 Mei 1453.

Sejak saat itu Konstantinopel menjadi ibukota Kekaisaran Ottoman, dengan Sultan Mehmed sebagai Kaisarnya. Ia merevitalisasi dan membangun banyak ikon baru seperti Grand Bazaar yang hingga kini masih berdiri, istana, paviliun, dan banyak masjid. Hagia Sophia pun bukan lagi Katedral, melainkan Masjid Kekaisaran. Saat Kekaisaran Ottoman resmi berubah sebagai Khalifah sejak tahun 1517, Konstantinopel juga menjadi ibukota Khalifah terakhir di dunia selama 400 tahun. Pada periode inilah, tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Suleyman (1520 – 1566), Turki mengalami pencapaian arsitektur dan artistik yang pesat. Arsitek utama Ottoman, Mimar Sinan, mendesain beberapa bangunan ikonik di Konstantinopel seperti Masjid Suleymaniye, beberapa aqueduct dan hammam. Sedang seni kaligrafi, keramik dan kaca patri juga berkembang pesat.
Sayangnya, Ottoman mengalami kemunduran memasuki awal abad ke-20. Berbagai pemberontakan membuat Austria-Hungaria berhasil menganeksasi Bosnia dan Bulgaria, kedua negara terakhir lalu memerdekakan diri. Kalah Perang Dunia I diikuti Perang Kemerdekaan Turki mengakhiri Kekaisaran Ottoman. Kaisar terakhir, Sultan Mehmed VI diasingkan ke Sanremo, Italia. Republik Turki pun resmi dibentuk pada 29 Oktober 1923 dengan Ankara sebagai ibukota Turki. Sedang Konstantinopel tetap menjadi kota terbesar dan pusat ekonomi. Namanya kemudian berubah menjadi Istanbul pada tahun 1930. Istanbul yang tadinya multietnis juga mengalami proses Turkifikasi yang mana mengakibatkan pengusiran masal etnis Yunani pada 1964-1965. Kini, hampir 80% penduduk Istanbul adalah etnis Turki.
Dengan sejarah panjang yang berwarna dan historical wonders yang mengagumkan, gak heran kalau Istanbul menjadi salah satu destinasi wisata paling terkenal di dunia. Kota yang berada di benua Asia dan Eropa ini tercatat sebagai kota urutan ke-2 dan ke-5 yang paling banyak dikunjungi orang asing pada tahun 2024 & 2025.
Perlukah visa untuk liburan ke Istanbul, Turki?

Jawabannya tidak, ya teman-teman. Sejak akhir Desember 2021, WNI tidak perlu visa untuk kunjungan singkat (wisata/ bisnis) ke Turki. Kebijakan bebas visa ini berlaku hingga 30 hari per kunjungan (maksimal 90 hari dalam 180 hari). Kalau kamu mau traveling ke Istanbul, Turki, pastikan paspor kamu berlaku min. 6 bulan dan punya bukti pendukung seperti tiket pesawat PP yang sudah issued, akomodasi, dan dana.
Ketika check-in di konter Turkish Airlines di Bandara Ngurah Rai Bali, petugasnya ngecek paspor dan tiket PP saya dan keluarga. Uniknya, petugas juga sempet nanya apakah kami pasti akan balik ke Bali? Ya iyalah, Pak, secara kita memang tinggalnya di Bali. Dalam hati saya tahu sih, dia nanya begini karena banyak orang Indonesia yang pergi ke Turki dengan visa turis tapi ujung-ujungnya kerja ilegal, hmmm…
Saat masuk ke Turki, pemeriksaan di imigrasi berlangsung lancar. Gak pakai disuruh nunjukkin tiket atau bookingan hotel lho. Hanya aja saya ditanyain apa pekerjaan saya. Dalam waktu kurang dari 5 menit, kita udah selesai proses imigrasi.
How to get to Istanbul, Turki?

Untuk terbang ke Istanbul Turki kita sekeluarga naik salah satu maskapai favorit saya (selain ANA), yaitu Turkish Airlines. Beneran deh, terbang direct selama 13,5 jam dari Bali ke Istanbul Turki airport gak berasa capek banget karena leg room pesawat yang lebih luas, makanan enak, dan pilihan film yang bervariasi. Selain itu, proses check-in, pemeriksaan sekuriti dan imigrasi juga berjalan lebih smooth karena keluarga dapet prioritas check-in dan imigrasi. Anak saya juga seneng dapet bermacam mainan yang lucu-lucu dari Turkish Airlines. Detail review terbang dengan Turkish Airlines bisa dibaca ya, guys.
Where to stay in Istanbul, Turki?

Ada 2 area yang saya serius pertimbangkan untuk kita tinggal selama jalan-jalan di Istanbul, Turki. Yaitu Taksim dan Fatih (Sultanahmet). Banyak traveler nyaranin untuk stay di Taksim karena areanya lively terutama saat malam, moderen, dan banyak pilihan shopping dan hiburan. Rate hotelnya pun di bawah hotel-hotel di Fatih pas saya cek. Tapi akhirnya saya pilih stay di Fatih karena tujuan utama trip kali ini untuk visiting the main attractions di Istanbul which mostly located di Fatih. Selama 4 hari 3 malam kita stayed di hotel Istanbul Agora Life Hotel – Special Class yang mana cuma berjarak 3 menit jalan kaki ke Hagia Sophia dan Basilica Cistern! Wow, strategis banget, kan?!
Lokasi emang jadi pertimbangan utama saya milih hotel selama jalan-jalan ke Istanbul, Turki kali ini. Karena kita bawa stroller dan traveling with a toddler, saya maunya stay gak jauh dari destinasi wisata agar bisa balik ke hotel pas jam anak tidur siang atau kapan pun kita perlu istirahat. Kawasan Fatih juga lebih stroller friendly. Saya dan keluarga tiba di hotel sebelum jam 7 pagi, kita pun bersiap nitipin koper dulu lalu rencananya akan menghabiskan waktu di kafe sambil nunggu waktu check-in tiba. Ternyata, staf hotel baik banget! Kita dibolehin early check-in jam 7 pagi tanpa biaya tambahan apapun lho. We’re very grateful! Lumayan banget bisa segera mengistirahatkan tubuh di kasur setelah terbang 13,5 jam lamanya.
Downside dari hotel bintang empat ini ada pada ukuran kamarnya yang lumayan mungil, 20 m2 aja, meski di booking.com tertulis size kamar 25 m2. Meski begitu, hotelnya punya tripe bed choice untuk kita bertiga. Jadi, meski kamarnya lumayan kecil dan ratenya lumayan tinggi dibanding hotel di Taksim, our experience was still great karena lokasi yang strategis, bisa very early check-in , serta para staf hotel pada baik dan ramah. Kita pun bisa tidur nyenyak disini setiap malam setelah seharian menjelajah Istanbul.
How to go around Istanbul, Turki?

Istanbul punya sistem transportasi publik yang luas, beragam, dan terjangkau. Kamu bisa naik tram, metro, ferry, bus, dan funicular untuk jalan-jalan keliling Istanbul, Turki. Untuk naik transportasi publik, kamu cukup membeli Istanbulkart di kios atau mesin tiket di halte/ stasiun. Harga kartunya 165 Turkish Lira (TL) lalu top up sesuai kebutuhan kamu. Sekali naik tarifnya 35 TL.
Saya cuma pakai transportasi publik beberapa kali aja karena selama mengeksplor attractions di Fatih, seringnya kita jalan kaki sambil ngedorong stroller. Hari kedua pas mau ke Istiklal street di Taksim barulah kita naik tram. Begitu juga untuk nyebrang ke Asian side-nya Istanbul, saya naik ferry. Khusus ferry di Istanbul, saya sangat impressed karena ferrynya bagus, nyaman, tapi tarifnya sangat terjangkau, yaitu cuman 49,4 TL (Rp.19.260,-) aja! Secara di Indonesia saya hampir gak pernah traveling pakai kapal (kecuali kalau di luar Jawa), jadi sekalinya naik kapal buat bepergian saya selalu excited lol. View dari Eminonu ke Kadikoy di sisi Asia Istanbul pun very stunning. Burung – burung camar sibuk beterbangan di permukaan laut, background minaret dan kubah masjid terlihat mempesona saat kapan berlayar menjauh dari daratan. Perjalanan 30 menit pun terasa cepat, tahu-tahu kapal sudah bersandar di Kadikoy.
Note: Lebih baik membayar tiket ferry dengan Istanbulkart, meski bisa juga pakai kartu kredit. Saat itu entah kenapa Istanbulkart saya gak bisa dipakai, dan karena kita terburu-buru saya tap aja pakai CC. Setelah dicek, ternyata ada beberapa charge tambahan dari bank selain tarif ferry.
Sementara itu, transportasi dari Bandara Istanbul ke hotel atau pusat kota seperti Sultanahmet dan Taksim juga ada beberapa pilihan, diantaranya metro dan bus Havaist (tiket 18 TL), tapi kita naik taksi yang sudah dibooked lewat aplikasi Bitaksi.
Things to see & do di Istanbul, Turki
- Blue Mosque

Dikenal juga dengan nama Masjid Sultan Ahmed, Blue Mosque jadi destinasi yang pertama kali saya kunjungin dalam trip ke Istanbul, Turki kali ini. Meski udah pernah kesana, Blue Mosque tetap memesona saya. Masjid yang dibangun pada tahun 1609–1616 ini terlihat stunning banget dengan kubah-kubah berwarna biru dan 6 minaret di sekelilingnya. Blue Mosque yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I masih aktif sebagai Masjid, yang artinya masih jadi tempat salat 5 waktu berjamaah setiap hari.

Turis dibolehkan masuk ke dalam Blue Mosque tanpa biaya, hanya aja mesti memakai pakaian tertutup. Untuk perempuan wajib memakai penutup kepala, baju lengan panjang, dan celana/ rok panjang. Ketika masuk ke dalam Blue Mosque, kamu perlu melepas sepatu dan menyimpannya di rak sepatu di dalam masjid.
Selain kagum banget dengan arsitektur luarnya yang megah dan remarkable, interior dalam Masjid juga sama impresifnya. Terutama bagian dalam kubah Masjid yang dihiasi dengan banyak kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an yang dominan dengan warna biru.

Kalau mau kesini, datanglah sebelum atau setelah waktu salat karena Masjid ditutup selama salat 5 waktu berlangsung. Kamu sebaiknya juga membawa hijab/ scarf sendiri karena tidak disediakan penutup kepala di dalam Masjid.


Bagian lain yang menarik dari Blue Mosque adalah halamannya yang luas, terluas dari semua Masjid Ottoman. Di tengah halaman yang kini disebut Sultanahmet square berdiri sebuah Obelisk Theodosius, sebuah obelisk dari Mesir Kuno yang dibawa ke Turki oleh Kaisar Romawi Theodosius I (pada zaman Istanbul masih jadi ibukota Romawi dan disebut Konstantinopel).


2. Hagia Sophia

The phenomenal yet controversial Hagia Sophia. Disebut fenomenal karena dulu ketika dibangun Kaisar Romawi Justinian I (537 M), Hagia Sophia adalah Katedral terbesar di dunia. Sempat diubah menjadi Masjid Kekaisaran setelah Ottoman berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, di zaman moderen Hagia Sophia mostly berfungsi sebagai museum, hingga tahun 2020 saat pemerintah Turki mengembalikan fungsinya sebagai Masjid. Sempat menuai protes dan kekecewaan dari pemerintah dan masyarakat Barat, hingga kini Hagia Sophia tetap aktif sebagai Masjid sekaligus destinasi wisata.

Saya dan keluarga ngantre sekitar 20 menit untuk beli tiket masuk ke Hagia Sophia di loket. Antrean pengunjung memang lumayan panjang tapi untungnya bergerak cepat. Tiket untuk orang asing 25 Euro per orang, anak-anak di bawah 8 tahun free. Hanya orang Turki yang akan beribadah yang dibolehkan masuk for free. Kali ini kita memakai baby carrier karena stroller tidak diperbolehkan masuk ke dalam Masjid. Sama dengan Blue Mosque, untuk masuk ke Hagia Sophia wajib memakai pakaian tertutup (dan penutup kepala untuk perempuan). Kalau kamu gak bawa scarf atau hijab, bisa beli dulu loh di toko-toko suvenir di depan Hagia Sophia.
Karena lantai dasar Hagia Sophia digunakan untuk salat berjamaah, turis hanya bisa mengakses upper gallery. Tapi dari bagian atas sini saya bisa melihat bagian dalam Hagia Sophia kok, hanya aja memang ada beberapa bagian yang sedang direnovasi.


Hagia Sophia ikonik karena arsitektur Byzantiumnya yang megah dan memiliki perpaduan elemen Kristen Ortodoks (mosaik dan lukisan) dan Islam (kaligrafi). Ketika memandangi kubah dan dinding-dindingnya, memang terlihat jelas sisa-sisa elemen Gereja Kristen Ortodoks di dalam Hagia Sophia. Dengan nilai sejarah dan budaya yang kaya, pantas aja kalau tiket masuknya dihargai lumayan tinggi. Pokoknya, wajib deh ke Hagia Sophia saat kamu jalan-jalan ke Istanbul, Turki!


Memasuki Masjid Hagia Sophia, saya sebenarnya merasa sedang masuk ke dalam salah satu gereja Kristen Ortodoks di Yunani. Karena ya itu, dulunya kan emang Gereja. Ada beberapa bagian dalam Masjid yang menurut saya kelihatan sangat tua dan kurang dirawat, yang untungnya saat saya kesana lagi direnovasi.

Hagia Sophia terletak tepat di seberangnya Blue Mosque, jadi dalam sekali visit ke area ini kamu bisa mengunjungi keduanya.
3. Basilica Cistern

Inget gak adegan di novel dan film Inferno ketika Robert Langdon mencari keberadaan virus mematikan yang tersembunyi di dekat pilar kepala Medusa? Yup, adegan tersebut berada di Basilica Cistern, salah satu situs bersejarah dunia yang berada di Istanbul, Turki. Tepat berada di seberang jalan dari Hagia Sophia, Basilica Cistern adalah bak air atau waduk kuno terbesar dari ratusan waduk yang berada di bawah permukaan kota Istanbul. Waduk ini dibangun pada abad ke-6, oleh Kaisar Romawi Justinian I, saat Istanbul masih disebut Konstantinopel. Fungsi utamanya adalah untuk mengamankan pasokan air sepanjang tahun bagi Istana Agung Konstantinopel dan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bendungan ini berfungsi sebagai waduk besar bagi kota, menyimpan air dari saluran air selama musim kemarau dan melindungi dari kekurangan air selama dikepung musuh. Saat ini, Basilica Cistern dijaga agar tetap memiliki sedikit air agar pengunjung bisa mengakses area di dalam. Salah satu bagian paling terkenal dan jadi incaran pengunjung adalah adanya dua patung kepala Medusa yang menyangga pilar-pilar.
Untuk masuk kesini, kamu bisa memilih tiket siang hari (09.00 – 18.00) atau tiket malam hari (19.30 – 22.00). Tiket siang 1.500 TL (kira-kira Rp. 581.300,-), sedangkan tiket malam 2.400 TL (Rp. 930.023,-) Harga tiketnya emang lumayan tinggi yah, guys, apalagi kalau dibandingkan dengan harga tiket untuk warga negara Turki yang hanya 600 TL saja. Bisa dibilang akhir-akhir ini harga tiket attractions di Istanbul meningkat drastis akibat inflasi gila-gilaan dan ketidakstabilan ekonomi Turki. Belum lagi harga tiket masuk sering dipatok dengan Euro sehingga terlihat semakin mencolok dibanding dengan harga tiket untuk orang Turki.
4. Topkapi Palace

Masih di kompleks yang sama, tepatnya di belakang Hagia Sophia berdiri Istana Topkapi, yang dulunya menjadi tempat tinggal utama para Sultan Ottoman sekaligus pusat administrasi. Istana Topkapi dibangun oleh Sultan Mehmed pada tahun 1459, atau enam tahun setelah menaklukkan Konstantinopel. Topkapi, yang berarti Gerbang Meriam, terdiri dari empat halaman utama, harem atau tempat tinggal para selir dan anggota keluarga Sultan yang berjenis kelamin perempuan, dan gedung Dewan Kekaisaran. Pada pertengahan abad ke-19, Istana dipindahkan ke Istana Dolmabahce, sedangkan Istana Topkapi beralih fungsi sebagai museum dan perpustakaan hingga kini.

Tidak semua ruangan dan gedung bisa diakses pengunjung, hanya ruangan terpenting saja yang bisa dikunjungi seperti harem, ruang bendahara yang disebut hazine, tempat Berlian Pembuat Sendok dan Belati Topkapi dipamerkan. Kamu juga bisa melihat pakaian dari zaman Ottoman, senjata, baju zirah, miniatur, relik keagamaan, dan manuskrip berhias seperti manuskrip Topkapi.
Tiket masuk: 2750 TL (halaman pertama Istana bisa diakses tanpa tiket).
5. Gulhane Park

Bersebelahan dengan Istana Topkapi adalah Taman Gulhane yang cantik, even di malam hari. Taman Gulhane adalah salah satu taman tertua dan terluas di Istanbul, Turki. Meski masih termasuk bagian komplek Istana Topkapi, Taman Gulhane bisa diakses free. Beberapa fasilitas di taman ini diantaranya jalan setapak yang stroller-friendly dan playground. Sayangnya saya kesini saat musim dingin, coba pas musim semi ya pasti cantik banget dengan adanya kebun bunga tulip yang tengah bermekaran.
6. Grand Bazaar

Grand Bazaar Istanbul Turki adalah salah satu pasar tertutup tertua dan terbesar di dunia, memiliki lebih dari 4.000 toko di 61 gang beratap. Pasar ikonik seluas 30.700 m2 sering disebut juga sebagai salah satu mal tertama di dunia. Tentunya saat jalan-jalan ke Istanbul, Turki wajib ke Grand Bazaar. Apalagi jaraknya dekat dengan hotel dan saya juga suka berburu trinkets etnik dari setiap negara yang dikunjungi. Bermacam handycraft dan suvenir dari Turki termasuk yang paling saya suka, hence selama 4 hari kita bolak-balik menjelajah Grand Bazaar.

Jujur kali ini Grand Bazaar terlihat lebih lengang dibanding saat terakhir kali saya ke Turki. I don’t know why. Tapi tetep suka kesana karena pasarnya sangat terawat, rapi, apik, dan pastinya gampang ngedorong stroller disini. Karena saya udah punya sepatu tradisional Ottoman dan Turkish coffee pot (cezve) yang jadi hiasan di rumah, kali ini kita ngeborong karpet Turki dan hiasan Blue eyes (nazar boncuk), yang terakhir karena hiasan Blue Eyes yang sebelumnya dicuri orang in my old apartment in Jakarta.
Di Grand Bazaar tentunya kamu bisa nemuin juga bermacam Turkish delights dan baklava, tapi saya pilih beli di Hafiz Mustafa 1864, sebuah toko baklava dan Turkish delight yang terkenal berkualitas tinggi, mewah dan punya banyak macam. You should try!

Bazaar lainnya di Istanbul, Turki yang bisa kamu coba kunjungi diantaranya Arasta Bazaar dan Spice Bazaar. Keduanya berada di Fatih.
7. Galata Tower

Menara batu abad pertengahan yang ikonik ini mesti kamu datengin kalau kamu kepingin melihat panorama 360 derajat kota Istanbul dan Selat Bosphorus. Galata Tower yang berada di distrik Beyoglu awalnya dibangun oleh koloni Genoa pada 1348 saat Perang Salib sebagai menara pengawas. Saat itu namanya Tower of Christ (Menara Kristus). Setelah Istanbul ditaklukkan Ottoman, menara digunakan sebagai penjara, observatorium, dan untuk mendeteksi kebakaran. Kini, Galata Tower menjadi museum, turis boleh naik ke dek observasi untuk menikmati view Istanbul, Turki dari atas. Hanya aja jumlah pengunjung dibatasi 100 orang per jam.

I didn’t go up there, only visited the ground. It’s just not my thing.
Tiket: 30 Euro.
8. Istiklal Street

Dekat dengan Galata Tower adalah Jalan Istiklal, jalanan pejalan kaki ikonik sepanjang 1,4 km yang menghubungkan Taksim Square dengan kawasan Galata. Pada masa Ottoman, jalan ini dinamakan Grande Rue de Pera, tapi setelah Republik Turki berdiri namanya diganti menjadi Jalan Istiklal (artinya Jalan Kemerdekaan). Disini kamu bisa shopping ke banyak butik Turki dan merek internasional, nyicip kuliner Turki, serta naik tram merah yang bersejarah. Saya suka jalan-jalan disini karena areanya flat, gampang buat ngedorong stroller.

Saat menyusuri Istiklal, kita juga sempat nemu Cicek Pasaji (Flower Passage), yaitu lorong bersejarah yang terkenal di Istanbul. Cicek Pasaji merupakan sebuah lorong beratap dengan deretan kafe, wine bars, dan restoran bersejarah. Lorong ini menghubungkan Jalan İstiklal dengan Jalan Sahne dan memiliki pintu masuk samping yang menghadap ke pasar ikan.
9. Menyeberang ke sisi Asia Istanbul

Menyeberangi Selat Bosphorus menuju ke sisi Asia Istanbul, Turki jadi highlight jalan-jalan kali ini yang udah saya tunggu-tunggu banget! Pagi hari, kami bergegas ke stasiun tram menuju ke Eminonu untuk naik kapal ferry. Tak lama setelah saya dan keluarga masuk kapal, kapalnya bergerak menyeberangi Bosphorus. 30 menit kemudian, kami sampai di Kadikoy, distrik yang ramai dan pusat budaya di sisi Asia Istanbul. Kadikoy terkenal dengan atmosfter lokalnya yang otentik, street food, pasar tradisional, serta nightlife yang lively.

Awalnya, kami menghabiskan waktu dulu di sekitar pelabuhan dan tepi Laut Marmara. Kawanan kucing-kucing lucu menarik perhatian Aimee. Memang di Istanbul, Turki ada banyak banget kucing. Menariknya, hampir semua kucing terlihat gemuk, bersih dan terawat. Gak pernah saya ngelihat kucing kurus, kering dan kotor. Sepertinya kucing-kucing di Istanbul dirawat oleh warga karena sering saya nemuin makanan kucing di dekatnya. Dari sini, kita beranjak ke jalan raya Kadikoy yang sangat sibuk dengan orang lalu lalang dan para pekerja toko. Suasananya lebih ruwet dibanding di sisi Eropa.



Setelah menyusuri Kadikoy beberapa lama, akhirnya kita nemuin juga Kadikoy Market. Pasar tradisional yang menjual aneka produk segar, ikan, bumbu, dan makanan lokal ini sangat menarik. Pasarnya tertata rapi, sangat bersih, dan produk-produknya terlihat menggoda semua. Bisa dibilang pasar Kadikoy jadi bagian Kadikoy yang paling saya suka. Disini kita belanja olive soap, suvenir juga makan siang.

Menjelang sore hari, kita kembali ke Eminonu dengan kapal ferry.
10. Yeni Camii

Yeni Camii yang berarti Masjid Baru terletak di Eminonu, yang pada masa lampau menjadi pusat ekonomi dan tempat tinggal umat Yahudi di Istanbul, Turki. Masjid yang berada di Golden Horn, tepatnya di ujung selatan Galata Bridge, menjadi contoh penting dari periode Kesultanan Wanita di Kekaisaran Ottoman, yaitu periode dimana para Ibu, Nenek, Adik, dan Selir memiliki pengaruh politik.

Awalnya, pembangunan Yeni Camii dimulai oleh Sultan Safiye, istri Sultan Murad III. Tujuan dibangunnya Yeni Camii adalah untuk memperluas pengaruh Islam di area yang didominasi umat Yahudi, dengan memanfaatkan ketidakpuasan warga lokal dan pedagang asing akan pengaruh Yahudi. Pembangunannya lalu dilanjutkan oleh Ibu Sultan Mehmed III dan Ibu Sultan beberapa generasi selanjutnya hingga akhirnya diresmikan pada 1665.

Menurut saya, Yeni Camii interiornya lebih cantik dari Blue Mosque, terutama bagian dalam kubahnya yang dihiasi kaligrafi dengan perpaduan warna hijau, oranye, dan ungu pastel. Very charming!
Yeni Camii adalah Masjid aktif, tapi pas kesini saya gak perlu menutup kepala. Tidak ada tiket masuk alias free.
11. Sunsetan di Rooftop Bar/ Resto

Salah satu things to do yang wajib dilakukan pas traveling ke Istanbul, Turki adalah sunsetan di rooftop bar/ resto yang banyak tersebar. Sebenarnya hal ini udah masuk di itinerary yang saya buat, rencananya kita akan menutup hari di Taht rooftop. Tapi sayangnya karena kita keasyikan jalan, sunset pun terlewat. Jadi gak sempet deh foto-foto di rooftop dengan background kota Istanbul. Tapi kita nemuin juga sebuah restoran ber-rooftop tak jauh dari Hagia Sophia. Jadinya dinner disitu deh, cuma saya lupa nama restonya apa. It’s pretty fancy with a nice view overlooking Hagia Sophia. I like their western food, secara kita lagi bosen makan makanan Turki. But, no photos taken since we were too hungry & tired.
12. Dolmabahce Palace

Istana Kekaisaran Ottoman dari abad ke-19 yang sangat megah di Besiktas, Istanbul, Turki. Istana Dolmabahce dibangun atas perintah Sultan Abdülmecid pada 1856. Setelah pembangunan rampung, pusat administrasi Kekaisaran Ottoman dan tempat tinggal utama Sultan dipindah kesini dari Istana Topkapi. Berbeda dengan Topkapi, Istana Dolmabahce lebih bergaya Eropa, yaitu gaya Barok, Rokoko, dan Neoklasik. Dolmabahce bahkan terkenal mewah layaknya istana Eropa, diantaranya didekorasi dengan 14 ton emas, lampu gantung kristal Bohemian 4,5 ton terbesar di dunia dan dilapisi karpet sutra Hareke. Disini juga Mustafa Kemal Atatürk, pendiri Republik Turki wafat pada 1938.
Tiket: 1.800 TL (tutup hari Senin, dan tidak boleh mengambil foto di dalam Istana Dolmabahce).

I truly enjoyed our 4-day trip in Turkey! Rasanya panca indera saya benar-benar dimanjakan oleh keindahan arsitektur dan budaya Turki yang eksotis. Visiting a historic city with glorious past selalu terasa meaningful buat saya. Hanya aja selama di Istanbul, Turki saya curious kenapa kota ini didominasi oleh laki-laki. Mulai dari Grand Bazaar, pedagang kaki lima, restoran, fancy restaurant, toko-toko sampai hotel pegawainya laki-laki semua! Saya memang ngelihat banyak perempuan lalu lalang di jalan but I am not sure if they are tourist atau warga lokal. Kabarnya sih budaya Turki patriarki banget. Yah semoga perempuan disana tidak dipaksa untuk diam di rumah, atau gak boleh kerja, intinya tidak punya pilihan atas hidup sendiri.
Anyway, I will come back to Istanbul, Turki untuk mengeksplor bagian kota lainnya yang belum sempat dijelajahin seperti Masjid Ortakoy serta destinasi lainnya. Meski sering dibilang negara Eropa, bagi saya Turki itu negara Asia Barat secara kultural (secara geografis 97% wilayah Turki berada di Asia, 3% di Eropa). Sampai ketemu lagi di Istanbul, Turki!
Curious about my adventures in Europe and America ?. You can click the following links to see my traveling videos that have aired on Net TV :
- Desa Hallstatt, Desa dengan Arsitektur Klasik di Pinggir Danau
- Imutnya Park Guell, Dunia Fantasi Ala Gaudi di Barcelona
- Ada Turki Mini di Bosnia Herzegovina
- Nyobain Makanan Khas Bosnia, Kaya Rasa dan Pasti Halal
- The Bean, Seni Kontemporer yang Ada di Film – film Hollywood
Want to help support my travel? Help me to visit 50 more countries and write more travel stories & guides by donating here
Watch my adventures & subscribe to my YouTube channel: The Island Girl Adventures
