
Tahun 2025 terasa spesial karena saya berhasil membuat dua milestones: menginjakkan kaki di benua Australia dan Afrika! Akhir Desember saya dan keluarga terbang dari Istanbul menuju ke negara ke-39: Maroko, tepatnya ke sebuah kota eksotis di dekat Gurun Sahara yang dijuluki Kota Merah, yaitu Marrakesh. Marrakesh, Maroko dikenal sebagai destinasi wisata yang amat memikat turis. Marrakesh, Maroko menawarkan eksotisme budaya Arab yang otentik, masjid dan istana megah saksi kejayaan dinasti yang pernah berkuasa, hingga pengalaman menginap dan bersantai unik di oasis tersembunyi di tengah kota tua Medina. Cuss jalan-jalan ke negara Afrika Utara yang bebas visa bagi WNI ini….
Marrakesh, kota eksotis yang paling banyak dikunjungi traveler di Maroko

Terlalu sering traveling ke negara Barat membuat saya merindukan sense of novelty dari sebuah kota/ negara. Saya kangen merasa takjub, curious, sekaligus antusias saat ngelihat dan tahu betapa berbedanya peradaban di belahan dunia lain yang tengah saya kunjungin. Dulu waktu pertama kali ke Eropa, saya yang saat itu solo traveling merasa takjub melihat kota dan kehidupan di Belanda yang beda banget dengan Indonesia, dan jujur, sense of novelty itulah ditambah a thirst for adventure yang membuat saya rela bekerja keras demi melanjutkan petualangan ke puluhan negara. Traveling ke negara-negara Barat emang asyik, nyaman dan aman buat keluarga seperti kami, tapi juga feels less challenging. Makanya, pas suami bilang kita akan liburan akhir tahun ke Marrakesh, Maroko bersama keluarga di Prancis saya langsung excited. Apalagi dipadukan dengan trip 4 hari ke Istanbul, Turki karena emang saya demen sama sejarah dan arsitektur Ottoman.
Anyway, balik lagi soal jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko. Maroko adalah negara yang extremely popular sebagai destinasi wisata bagi turis-turis Eropa. Letaknya dekat dengan Eropa, cuacanya hangat sepanjang tahun, punya landskap memukau (Gurun Sahara, pegunungan Atlas, dan pantai), hingga adanya perpaduan budaya Arab dan Prancis membuat Maroko difavoritin wisatawan Eropa. Dan memang, pas saya kesana banyak banget turis Eropanya, terutama Prancis yang punya kedekatan historis. Bahasa Prancis pun jadi salah satu bahasa resmi di Maroko, dan saya merasa jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko kali ini terasa mudah salah satunya berkat kita berkomunikasi dengan bahasa Prancis.
Tapi selain faktor-faktor diatas, apa sih yang sebenarnya membuat Maroko worth to visit, terutama untuk wisatawan Indonesia? Bisa dibilang, Maroko ini almost the whole package. Maroko punya budaya eksotis yang kaya dari perpaduan budaya Arab, Prancis, Berber dan Afrika; kota-kota yang semarak dan visually pleasing seperti Marrakesh dan Chefchaouen The Blue City; Medina (kota tua) yang bersejarah dan sangat menarik; pilihan akomodasi yang stunning bak istana di setiap riad; kuliner yang masuk di lidah orang Indonesia, bebas visa, dan tentunya terjangkau. Dari sekian banyak destinasi wisata Maroko, Marrakesh lah pusat wisata utama di negara Afrika Utara ini dan bisa dibilang ibukota pariwisata Maroko.

Marrakesh atau Marrakech (pelafalan bahasa Prancis) terkenal berkat atmosfernya yang semarak, terutama di Medina (kota tua) yang bak labirin dan Souk atau pasar tradisional yang sudah eksis sejak ratusan tahun lalu; arsitektur kotanya unik dan didominasi warna merah, hence dijuluki The Red City; serta menawarkan keramahan khas Maroko.

Marrakesh ditemukan oleh Abu Bakar bin Umar pada tahun 1070, kepala suku dan sepupu kedua Raja Yusuf Bin Tashfin, raja dinasti Almoravid, sebuah dinasti Berber Muslim yang menguasai Maroko dan Andalusia kala itu. Dinasti Almoravid menjadikan Marrakesh sebagai ibukota dan mendirikan dinding kota berwarna merah dan banyak bangunan penting lainnya menggunakan campuran tanah liat merah dan batu pasir yang kaya akan oksida besi. Tak hanya estetik, penggunaan bahan ini juga berfungsi sebagai penahan panas di tengah iklim gurun. Kota Marrakesh, Maroko pun terlihat merah saat tertimpa matahari sore, melahirkan julukan The Red City (Kota Merah) hingga kini.
Marrakesh lalu berkembang pesat sebagai pusat agama, budaya, ekonomi Maghreb (bagian Barat dari dunia Arab, terdiri dari negara-negara di Afrika Utara). Tahun 1147, Marrakesh diambil alih oleh dinasti Almohad lalu kehilangan status sebagai ibukota yang berpindah ke kota Fez. Awal abad ke-16, Marrakesh meraih masa keemasaan di bawah kekuasaan dinasti Saadian dan kembali dijadikan ibukota Maroko. Raja Ahmad al-Mansur membangun istana dan monumen mewah, termasuk Istana El-Badi, untuk menjamu resepsi mewah para duta besar negara Eropa dan Kesultanan Ottoman. September 1912, Prancis berhasil merebut Marrakesh, Maroko pun menjadi bagian dari protektorat Prancis, hingga akhirnya merdeka dan kembali menjadi kerajaan pada tahun 1956.

Pasca merdeka inilah turisme booming di Maroko. Tahun 1960an hingga awal 1970an, Marrakesh, Maroko dikenal sebagai Mekkah-nya para hippie. Banyak musisi rock, aktor, sutradara, seniman dan fashion diva Barat datang dan tinggal di Marrakesh, termasuk The Beatles dan The Rolling Stones. Desainer fashion kondang Prancis, Yves Saint Laurent bahkan membeli properti dan merenovasinya, yaitu Jardins Majorelle yang kini jadi salah satu tempat wisata utama di Marrakesh, Maroko. Para periode ini, banyak ekspat Prancis yang berinvestasi properti di Marrakesh. UNESCO lalu menetapkan Medina (kota tua) Marrakesh, termasuk lapangan Jemaa el-Fnaa, banyak souks (pasar), dan Masjid Kutubiyya sebagai Situs Warisan Dunia.
Hingga kini, kota terbesar keempat di Maroko ini menjadi kota yang paling banyak dikunjungi di Maroko dan berkontribusi besar terhadap ekonomi Maroko. Karena sangat terkenal dan ramai wisatawan, kota Marrakesh di Maroko juga rawan scams, diantaranya guide palsu di Medina dan street performers di lapangan Jemaa el-Fnaa yang suka minta uang ke turis dan tentunya taktik scam klasik dimana supir taksi enggan menggunakan argo. Untungnya karena saya traveling ke Marrakesh bersama keluarga dan kita pakai bahasa Prancis, saya gak kena satu scam pun. Banyak juga traveler terutamasolo female traveler yang mengeluhkancatcalling dan unwanted attention di Marrakesh. Kalau kamu sendirian, pastikan untuk ignore mereka ya.
Apakah WNI perlu visa untuk jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko?

Nope! Bersama dengan Tunisia, Maroko membebaskan visa bagi WNI yang berkunjung ke Maroko untuk tujuan wisata hingga 90 hari. Yang penting, pastikan paspor kamu berlaku minimal 6 bulan saat kedatangan di Maroko.
How to get to Marrakesh, Maroko?

Dari Bandara Internasional Istanbul kita bertiga naik Turkish Airlines selama 5 jam 30 menit ke Marrakech, Maroko. Untuk kamu yang ingin jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko langsung dari Indonesia, kamu bisa terbang dengan banyak pilihan maskapai, seperti Qatar Airways, Etihad Airways dan KLM dengan transit, karena penerbangan langsung Jakarta ke Marrakesh belum ada. Pemeriksaan imigrasi berjalan lancar, hanya aja lebih lambat dibanding imigrasi Turki. Segera setelah keluar di terminal kedatangan, hal pertama yang dilakukan adalah menukar uang ke Dirham (DH). Maroko masih cash society jadi bawa uang cash itu wajib.
Transportasi untuk keliling Marrakesh, Maroko

Jujur menurut saya lalu lintas di Marrakesh cukup chaotic. Biar aman, nyaman dan cepat sampai, kemana-mana kita pakai taksi. Itu pun bukan taksi resmi yang ada tulisan taxi gitu, melainkan mobil biasa yang mangkal di pinggir jalan yang perlu tawar menawar ongkos dulu. Urusan ini selalu dihandle suami, mertua atau adik ipar saya, dan secara mereka pakai bahasa Prancis, tawar menawarnya berlangsung singkat lalu supir mengantar kami ke berbagai tujuan dengan aman. Supir taksi di Marrakesh, Maroko bisa dibilang cukup ramah dan suka ngobrol selama perjalanan, tapi sayangnya suka merokok dan terbiasa membuka kaca jendela plus ACnya gak dihidupin. Taksinya sendiri cukup okelah, gak nyaman banget karena biasanya pakai mobil jadul mirip Kijang zaman dulu gitu lho. So, dari semua taksi yang kita naikin gak ada satupun yang pakai argo. Semuanya pakai tawar menawar ongkos.

Di dalam Medina (kota tua) sendiri saya gak perlu naik taksi, cukup jalan kaki keliling kota dan souk (pasar tradisional). Beberapa kali saya ngelihat warlok Marrakesh lewat pakai gerobak yang ditarik keledai. Jadi keinget cerita Abunawas deh hehe… Biasanya, gerobak berkeledai ini digunakan buat mengangkut barang, bukan manusia lho.
Bagaimana dengan transportasi umum di Marrakesh, Maroko? Sebenarnya ada pilihan bus kota ALSA, bus hop-on hop-off untuk turis (bisa beli tiket 24 atau 48 jam seharga 145-165 Dirham) yang melewati tempat-tempat wisata utama, petit taxis (taksi kecil berwarna beige) untuk keliling dalam kota yang diwajibkan menggunakan argo, dan ALSA Airport Shuttle Bus (Line 19) sebagai transportasi dari dan ke Bandara Menara. Tapi kita gak sempat nyobain itu semua karena selalu naik taksi.
Kepingin nyobain transportasi tradisional di Marrakesh, Maroko? Kamu bisa cobain naik kereta kuda keliling Medina dengan tarif 120-180 Dirham per jam.
Where to stay di Marrakesh, Maroko?

Selama jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko kita stayed di riad, yaitu rumah atau istana tradisional Maroko yang punya ciri khas berupa halaman terbuka di bagian dalam rumah, seringkali dilengkapi dengan taman, air mancur, atau kolam. Riad dirancang dengan arsitektur tertutup ke dalam untuk privasi dan ketenangan. Ada banyak riad di Marrakesh, Maroko yang telah diubah fungsinya dari rumah tinggal menjadi akomodasi wisatawan. Kira-kira riad tuh seperti villa di Bali.

Riad yang kita tinggali selama 10 hari di Marrakesh, Maroko berada di sebuah komplek apartemen tepat diluar salah satu gerbang Medina. Riadnya emang cantik dengan dominasi warna merah dan arsitektur khas Maroko, seperti gerbang melengkung. Riad ini punya 4 kamar tidur, 3 kamar mandi, 1 toilet, dapur, 2 ruang keluarga, dan rooftop. Ada juga fasilitas kolam renang tapi sayangnya karena kami jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko pas musim dingin, poolnya gak kesentuh sama sekali.

Sebenarnya Marrakesh hotel ini lumayan nyaman untuk pretty long stay, apalagi ukurannya yang cukup besar, cocok buat yang traveling ke Marrakesh, Maroko bareng keluarga. Hanya aja ada beberapa downsides dari riad ini yang bikin kita cukup annoyed. Seperti air panas yang suka mati padahal pas musim dingin kita perlu mandi dengan air panas. Setelah dicek ternyata air panasnya diperoleh bukan dari heater, melainkan dari panas matahari. Jadi, kalau lagi gak ada matahari ya airnya dingin terus. Selain itu, mesin cucinya udah jadul, kita pun kesulitan membukanya let alone mencuci baju. Karena faktor-faktor diatas, saya gak akan sertakan link untuk riad ini.
Things to see & do di Marrakesh, Maroko

Sebagian besar tempat wisata di Marrakesh, Maroko berada di dalam Medina, yaitu kota tua Maroko yang dikelilingi tembok berwarna merah dan memiliki beberapa gerbang, salah satunya terlihat pada foto di atas. Tentu, di zaman moderen kota Marrakesh, Maroko udah berkembang menjadi kota besar, di luar batas Medina, tapi di dalam Medina masih banyak warga yang tinggal di rumah-rumah, bersama dengan para turis yang stay di riad-riad. Pusat ekonomi warga lokal Marrakesh sendiri berpusat di souk atau pasar tradisional yang juga menjadi destinasi utama wisatawan yang berlibur ke Marrakesh, Maroko.
- Madrasah Ben Youssef

Terletak di tengah Medina, kamu tak akan melewatkan Madrasah Ben Youssef saat jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko karena biasanya ada antrean cukup panjang di depan pintu masuknya. Madrasah Ben Youssef merupakan salah satu destinasi wisata utama di Medina, berkat keindahan arsitektur Islam dan nilai sejarahnya. Dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Abdallah al-Ghalib dari dinasti Saadian, Madrasah Ben Youssef adalah perguruan tinggi Islam terbesar di Afrika Utara pada zamannya. Disini para santri dilatih menjadi para cendekiawan Islam di bidang hukum Islam, yurisprudensi, dan penafsiran Al-Quran. Pada zaman itu, hampir 900 santri belajar dan tinggal disini. Namanya diambil dari Masjid Ben Youssef yang berada di dekatnya (dulu menjadi masjid utama Marrakesh).

Meski dulunya perguruan tinggi Islam, Madrasah Ben Youssef tampak sangat indah bak istana. Keindahannya bahkan diakui secara luas sebagai puncak arsitektur Saadian dan Maroko. Bersama ratusan turis lainnya, saya rela berdesak-desakan menjelajahi setiap ruangan dan kamar di Madrasah. Tak henti-hentinya saya mengagumi ukiran rumit kayu cedar di atap, jendela, dinding, dan balkon. Begitu juga ubin zellige yang membuat Madrasah Ben Youssef tampak menawan. Spot paling breathtaking tentu saja halaman berkolam di tengah Madrasah yang simetris dan nampak sempurna. Memang keren banget sih istana, ups sekolah ini….

Beberapa bagian Madrasah yang bisa diakses diantaranya halaman utama, kamar santri, tempat wudhu dan mushola, dan beberapa ruangan lainnya.
Tahun 1960 Madrasah Ben Youssef berhenti beroperasi dan kini menjadi situs bersejarah serta salah satu atraksi turis paling terkenal di Marrakech, Maroko. Untuk berkunjung, tiketnya 50 DH (Rp. 91.841,-) dan bisa dibeli langsung ke petugas loket. Jam bukanya dari 09.00 – 19.00 (tutup jam 18.00 saat bulan Ramadan). Sebaiknya kamu datang pagi hari untuk menghindari kerumunan turis karena tempat ini selalu sesak oleh pengunjung.
2. Souk Semmarine

Souk Semmarine, pusat ekonomi sekaligus jantungnya Medina di Marrakesh, Maroko. Seru loh, menelusuri gang-gang bak labirin di sekitar pasar tradisional ini. Di sepanjang jalan, selalu terdengar pedagang menawarkan barang dagangannya dalam bahasa Prancis, Arab dan Inggris. Yup, pedagang di Marrakesh, Maroko fluent dalam berbagai bahasa, karena ekonomi Maroko banyak bergantung pada pariwisata. Meski aktif nawarin dagangan, menurut saya mereka enggak pushy apalagi kurang ajar.


Souk Semmarine merupakah salah satu pasar tertua dan terpopuler di Maroko. Pasar ini udah eksis sejak abad-ke 11, saat para pedagang Timur Tengah dan Afrika datang kesini untuk jual beli rempah-rempah hingga kain sutra. I find Souk Semmarine is fascinating, colorful, bising dan memanjakan indera. Berbagai barang bisa ditemukan dan diborong disini, mulai dari rempah-rempah, teko dan gelas teh khas Maroko, karpet bulu domba, tajine (piring dan tutup khusus untuk menghidangkan tajine) yang terbuat dari tanah liat, parfum, perhiasan, keramik berwarna – warni, lampion brass, hingga oleh-oleh.



Tawar menawar is expected here, tapi tentunya hal ini bukan masalah besar ya karena di pasar di Indonesia pun juga begitu. Waktu belanja kesini, saya selalu membayar cash, tapi di kafe mereka biasanya menerima pembayaran dengan kartu.
3. Le Jardin Majorelle

Very aesthetically pleasing, gak heran kalau Taman Majorelle dibilang a must visit when in Marrakech!
Taman Majorelle awalnya dibuat oleh pelukis Prancis Jacques Majorelle mulai tahun 1922. Ia menghabiskan empat dekade mengolah tamannya dan menanam semua tanaman dari seluruh dunia. Setelah ia meninggal, Taman Majorelle kemudian dibeli oleh desainer kondang Prancis Yves Saint Laurent dan business partnernya Pierre Berge pada 1980. Mereka kemudian merestorasinya, makanya Taman Majorelle terawat apik hingga sekarang dan turis rela antre panjang demi jalan-jalan disini.


Highlight Taman Majorelle adalah sebuah bangunan berwarna biru cobalt terang di tengah taman yang disebut Majorelle Blue. Tampak estetik dan kontras dengan taman di sekelilingnya, Majorelle Blue sering menjadi background foto dari turis yang berkunjung, termasuk saya hehe.. Di dalamnya ada Museum Berber yang memamerkan kostum tradisional, perhiasan dan berbagai artefak dari etnis terbesar di Maroko.


Hal yang paling saya suka dari Taman Majorelle adalah berbagai pohon dan tanaman disini yang beda dengan yang pernah saya lihat di Indonesia dan negara lain. Banyak kaktus berbagai bentuk dan ukuran juga pohon-pohon yang belum pernah saya temuin sebelumnya. Karena Taman Majorelle sangat terkenal, kita perlu antre selama 30 menit karena kita kesana di siang hari pas lagi rame banget. Sebaiknya kamu datang di pagi hari agar terbebas dari crowd.

Yves Saint Laurent kabarnya banyak terinspirasi dari warna-warni dan motif yang ada di Taman Majorelle saat menciptakan koleksi fashionnya. Kreasi desainer kondang Prancis ini bisa kamu lihat sendiri di Museum Yves Saint Laurent yang berada persis di sebelah Taman Majorelle. Hanya aja disini gak boleh ambil foto di dalam museum ya, gaes.


Tiketnya sendiri 330 DH (Rp.607.925,-), sudah termasuk tiket Taman Majorelle, Museum Berber dan Museum Yves Saint Laurent. Selain tiket kombinasi, kamu juga bisa beli tiket satuan. Taman Majorelle buka dari jam 08.30 – 18.00, sedang Museum Yves Saint Laurent buka dari jam 10.00 – 18.00.
4. Masjid Kutubiyya

Masjid Kutubiyya atau Koutoubia dalam bahasa Arab adalah masjid terbesar di Maroko. Lokasinya berada di Medina, dekat dengan alun-alun Jemaa el-Fnaa yang terkenal. Masjid ini mudah dikenali berkat ciri khasnya yaitu menara setinggi 69 meter berwarna terakota.
Masjid Kutubiyya dibangun oleh Sultan Abd el-Moumen dari dinasti Almohad saat mereka memerintah Maroko, menggantikan penguasa sebelumnya dinasti Almoravid. Karena Almohad tidak mau beribadah di di masjid yang dibangun musuhnya, mereka lantas meluluhlantakkan masjid utama Marrakesh, Maroko saat itu yaitu Masjid Ben Youssef dan membangun Masjid Kutubiyya sebagai gantinya. Namanya berarti penjual buku, karena saat itu banyak pedagang yang menjual buku dan manuskrip di taman-taman sekitarnya.
Masjid Kutubiyya yang bergaya arsitektur Almohad hanya bisa dimasuki oleh umat Islam, sementara non muslim hanya diperbolehkan berada di sekitar masjid, menara, dan taman.
5. Alun-alun Jemaa el-Fnaa

Pusatnya kehidupan di Medina Marrakesh, Maroko. Saat siang hari alun-alun Jemaa el-Fnaa tampak seperti lapangan yang normal. Pedagang kaki lima tampak aktif menawarkan dagangannya ke wisatawan yang tengah lalu lalang. Tapi setelah matahari terbenam, suasananya berubah sangat lively. Di malam hari, seluruh tempat berubah menjadi lautan kios makanan yang mendesis, asap mengepul ke udara saat para pedagang saling berteriak, para musisi memainkan melodi yang menghipnotis, dan aroma daging panggang serta rempah-rempah memenuhi udara.
Berabad-abad lalu, Jemaa el-Fnaa adalah pos perdagangan utama dimana karavan-karavan beriringan menembus Gurun Sahara, kini Jema el-Fnaa menjadi destinasi wisata utama di Marrakesh, Maroko. Lautan manusia berada disini setiap sore hingga malam demi menikmati suasana otentik khas Marrakesh dan berwisata kuliner di berbagai kios kaki lima. Kalau kamu gak tahan dengan kebisingan dan sesaknya alun-alun, kamu bisa loh melipir ke salah satu kafe yang berjejer di pinggir alun-alun. Kamu bisa naik ke rooftop untuk melihat suasana Jemaa el-Fnaa dari atas sekaligus melihat sunset sambil menyicip mint tea khas Maroko.
6. Wisata kuliner khas Maroko

Satu hal yang bikin saya betah traveling 10 hari di Marrakesh, Maroko adalah kulinernya yang rasanya gak begitu jauh dari makanan Indonesia yang banyak menggunakan rempah-rempah. Kuliner Maroko merupakan perpaduan yang kaya dan aromatik dari pengaruh Arab, Berber, Andalusia (Spanyol), dan Prancis. Rasa makanannya biasanya gurih dan manis. Sedang rempah-rempah yang digunakan diantaranya jintan, kunyit dan kayu manis.
Makanan terpopuler Maroko, tajine, rasanya gak begitu jauh dari rendang dan semur ala Indonesia. Saya berkali-kali makan tajine, baik tajine ayam atau sapi yang dihidangkan bersama nasi. Rasanya lumayan enak dan mengenyangkan. Tajine adalah semur daging domba, ayam, sapi, atau sayuran yang dimasak perlahan dan disajikan di panci tanah liat berbentuk kerucut. Kuliner ikonik Maroko lainnya diantaranya couscous (butiran pasta kecil yang terbuat dari tepung semolina gandum durum, sering disajikan sebagai pendamping lauk (seperti nasi) dengan rasa netral dan tekstur ringan), dan bastilla/ pastilla (kue kering tipis ala phyllo yang diisi dengan daging ayam atau burung dara gurih, kacang-kacangan, dan ditaburi kayu manis serta gula).

Makanan Maroko biasanya disajikan bersama mint tea, but it’s not my cup of tea since rasanya pahit banget, sedang kalau ditambahkan gula rasa tehnya jadi terlalu manis. Tentu saya gak makan tajine setiap jam makan, bisa bosen dong. Untungnya riad kami berada di komplek apartemen yang punya pilihan restoran yang menyajikan western food. Jadi aman deh bisa makan pasta dan minum cappuccino hehe…
Sebuah restoran yang truly impressed me saat kita jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko adalah Le Majorelle Restaurant yang berada 100 meter dari Taman Majorelle. Kita brunch di area rooftopnya yang punya view menakjubkan rumah dan riad berwarna terakota. Tapi yang paling bikin saya impressed tuh vibesnya comfy. Betah deh berlama – lama disini sambil menikmati hangatnya mentari, secara matahari agak langka di musim dingin. Resto ini memadukan nuansa Maroko mixed dengan French.
Disini kita menikmati sajian sarapan Maroko yang terdiri dari jus segar, kopi atau teh, roti, keju, telur, zaitun, dan buah-buahan. Semua ini disajikan dengan beberapa jenis roti dan saus/selai.

7. M Bacha Coffee & Restaurant dan Bacha Coffee

Yup, M Bacha Coffee & Restaurant dan Bacha Coffee adalah dua tempat yang berbeda. Nama Bacha sendiri memang terkenal sejak brand kopi asal Maroko ini berekspansi ke Indonesia dua tahun lalu. Biar gak ketukar yuks saya jelasin dulu satu per satu.

M Bacha Coffee & Restaurant berada di tengah Medina, menawarkan pengalaman kuliner otentik Maroko, lengkap dengan interiornya yang sangat visually pleasing, bak interior istana Maroko. Tentunya tempat ini sangat memanjakan turis yang kepingin duduk di tempat cakep sekaligus foto-foto. Gak nyesel deh nemu tempat ini di hari terakhir liburan!


Sementara Bacha Coffee yang berada di dalam Istana Dar el Bacha sering disebut sebagai kafe terindah di Marrakesh, Maroko, bahkan mungkin di dunia!
Istana Dar el Bacha berasal dari tahun 1910 dan tadinya merupakan kediaman Thami El Glaoui, yaitu seorang Pasha atau penguasa kota Marrakesh saat itu. Ia terkenal suka mengadakan resepsi dan jamuan mewah bagi tamu-tamu internasional. Kini, di balik pintu berlapis emas itu ada kafe Marrakesh coffee mewah yang menyajikan lebih dari 200 jenis biji kopi dari 33 negara, termasuk yang diinfused dengan bermacam aroma mulai vanila hingga mawar. Coffee shop yang satu ini wajib didatengin sih kalau ke Marrakesh, Maroko karena pengalaman minum kopinya beda, yaitu lebih luxury dimana kamu dilayani staf yang berpakaian rapi dan kopinya disajikan dalam teko emas dan nampak perak.

Karena kafenya terkenal banget dan ikonik, for sure antrean kesini hampir selalu panjang. Jadi sebaiknya kalau kamu mau duduk ngopi di Bacha Coffee, datanglah 30 menit sebelum kafe buka jam 10.00 pagi. Kalau kamu terpaksa harus antre panjang, ada opsi menunggu di Museum Dar el Bacha di sebelahnya dengan tiket masuk 10 DH.
8. Istana Bahia

Ada beberapa historic sites yang menakjubkan di Marrakesh, Maroko yang tentunya sayang dilewatkan. Diantaranya adalah Istana Bahia, yang punya arsitektur dan desain yang impressive meski telah berusia lebih dari dua abad. Istana Bahia pertama dibangun pada 1860an oleh Si Musa, Grand Vizier (kepala pemerintahan) dari Sultan Muhammad ibn Abd al-Rahman dari dinasti Alawi. Istana kemudian diperluas saat anaknya, Si Ba Ahmed ibn Musa menjabat Grand Vizier dari Sultan Moulay Abdelaziz. Setelah Maroko merdeka dari Prancis pada tahun 1956, Istana Bahia digunakan sebagai kediaman kerajaan. Kemudian Raja Hassan II menyerahkannya kepada Kementerian Kebudayaan Maroko untuk digunakan sebagai ikon budaya dan objek wisata hingga kini.
Menjelajahi komplek istana yang luas ini akan membuat kamu takjub dan serasa kembali ke masa lampau. Arsitekturnya breathtaking, memamerkan keahlian Maroko dalam hal seni dan desain. Taman-tamannya elegan, suasana halaman dalamnya yang menggunakan ubin zellij berwarna-warni terasa peaceful, sedang kamar-kamarnya yang dihiasi dengan ukiran kayu rumit dan mendetail tampak charming. Istana Bahia terdiri dari 150 kamar yang dibangun mengelilingi beberapa halaman dalam dan taman riad. Tiket masuknya 110 DH, buka setiap hari dari 09.00 – 17.00.

Situs bersejarah & architecture wonder Maroko yang menakjubkan lainnya adalah reruntuhan Istana El Badi. Meski tinggal reruntuhan, Istana El Bali yang dibangun dengan gaya campuran Maroko dan Eropa tetap terlihat impressive. Istana ini dibangun pada 1578 oleh Sultan Ahmad al-Mansur, penguasa dari dinasti Saadian dengan tujuan untuk memamerkan kemakmuran dan pengaruh Sultan. Materialnya banyak diimpor dari negara-negara lain seperti Italia dan Mali, serta berhiaskan mosaik yang rumit, kolom marmer, dan ukiran yang indah.
Selain menjadi kediaman Sultan, Istana El Badi juga menjadi tempat tinggal para selir Sultan yang jumlahnya mencapai lebih dari 500 wanita. Setelah Sultan wafat pada tahun 1603, Istana El Badi dan akhirnya runtuh seiring dengan kemunduran dinasti Saadian. Kalau kamu ingin berkunjung ke atraksi turis di Marrakesh, Maroko ini tiketnya 100 DH (dewasa) dan 30 DH (anak-anak umur 7-13 tahun).

Dinasti Saadian juga meninggalkan Makam Saadian, yang meskipun sebuah makam tapi tampak sangat indah bak istana. Lama tersembunyi di balik tembok tinggi, Makam Saadian baru ditemukan tahun 1917. Disinilah Sultan al-Mansur bersama sekitar 60 anggota dinasti Saadian disemayamkan. Dinasti Saadian memerintah Maroko pada masa keemasannya di abad 16-17.
Selain nilai sejarahnya, hal yang bikin Makam Saadian worth to visit ada pada dekorasi yang rumit, menampilkan marmer Carrara Italia, detail emas, dan ubin zellige yang menakjubkan. Puncaknya adalah Aula Dua Belas Pilar, tempat Sultan berbaring di bawah langit-langit kayu cedar yang diukir dengan rumit. Tiket masuknya 100 DH (dewasa) dan 30 DH (anak-anak umur 7-13 tahun). Makam Saadian buka setiap hari dari jam 09.00 – 17.00.
9. Menjelajahi Gurun Sahara

Kalau kamu punya waktu lebih selama jalan-jalan ke Marrakesh, Maroko, sempetin ke Gurun Sahara deh. Ke Gurun Sahara dari Marrakesh perlu waktu 7,5 jam dengan naik mobil, makanya banyak yang menawarkan paket trip 3 hari 2 malam. Selama perjalanan, kamu bisa berhenti di beberapa destinasi seperti Pegunungan Atlas yang diselimuti salju saat musim dingin. Barisan Pegunungan Atlas memanjang sekitar 2.500 km, membentang melintasi Maroko, Aljazair, dan Tunisia untuk memisahkan garis pantai Mediterania/Atlantik dari Gurun Sahara.

Di kaki Pegunungan Atlas, tepatnya 3-4 jam berkendara dari Marrakesh adalah Ait Benhaddou, Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 1987 sekaligus tempat syuting serial Game of Thrones. Ait Benhaddou adalah kota benteng kuno yang menakjubkan, terkenal dengan arsitektur tanah liat (adobe)nya. Kota kuno ini terdiri dari kumpulan rumah bata lumpur, menara, dan benteng (kasbah) yang dikelilingi tembok pertahanan. Pada abad ke-17 karavan yang tengah melintasi Gurun Sahara berhenti di Ait Benhaddou. Kini sebagian besar penduduk desa telah pindah ke desa moderen di seberang sungai, tapi masih ada kok beberapa keluarga yang menghuni rumah-rumah di Ait Benhaddou. Turis yang kesini dibolehkan menelusuri lorong-lorong kuno, naik ke menara untuk menikmati panorama dan melihat kerajinan lokal. Tiket masuk: 20 DH.
Sebagai huge fan Game of Thrones, saya kepingin banget ke Ait Benhaddou. Disinilah scenes dari season 3 GOT dimana Daenerys Targaryen membebaskan para budak Yunkai diambil. But we weren’t lucky at that time karena suami saya kakinya cedera dan mesti istirahat beberapa hari di riads Marrakech yang kita tinggali. Lagipula, naik mobil kesana bakal tidak mudah karena anak saya yang toddler pasti tidak betah kalau harus duduk di mobil selama 3-4 jam. But this isn’t my last time visiting Morocco, I will come back karena Maroko dekat dengan Prancis!
Di Gurun Sahara beberapa aktivitas yang bisa kamu coba diantaranya naik unta menjelajah Sahara, naik ATV, sandboarding, menyaksikan sunset di gurun, dan menginap di tenda di tengah Sahara. Kalau kamu gak begitu tertarik camping di Sahara, kamu bisa memilih one day trip aja. Trip ke Ait Benhaddou biasanya juga ditawarkan sebagai one day trip dari Marrakesh, Maroko.

10 hari jalan-jalan di Marrakesh, Maroko terasa cepat berlaku. Tiba-tiba kita harus kembali ke Bandara Menara Marrakesh untuk terbang ke destinasi selanjutnya; Roma, Italia. Liburan akhir tahun kali ini benar-benar beda! Negara & benua baru, melihat budaya dan arsitektur asing bikin saya makin lapar untuk discover tempat baru lagi. Pastinya kita akan balik ke Marrakesh, Maroko demi melihat Ait Benhaddou dan kota-kota lainnya!
Curious about my adventures in Europe and America ?. You can click the following links to see my traveling videos that have aired on Net TV :
- Desa Hallstatt, Desa dengan Arsitektur Klasik di Pinggir Danau
- Imutnya Park Guell, Dunia Fantasi Ala Gaudi di Barcelona
- Ada Turki Mini di Bosnia Herzegovina
- Nyobain Makanan Khas Bosnia, Kaya Rasa dan Pasti Halal
- The Bean, Seni Kontemporer yang Ada di Film – film Hollywood
Want to help support my travel? Help me to visit 50 more countries and write more travel stories & guides by donating here
Watch my adventures & subscribe to my YouTube channel: The Island Girl Adventures
